Saturday, May 9, 2015

Mewujudkan Peran Positif Pertanian untuk Indonesia Hebat


Minggu, 18 April 2015 di aula FIKP UNS diselenggarakan Seminar Caping Tani yang diadakan oleh Format (Forum Mahasiswa Agroteknologi). Tema mewujudkan Pertanian Positif Pertanian untuk Indonesia Hebat ini menghadirkan pembicara yang luar biasa mulai dari kalangan pemerintah, pengusaha, pendidik, hingga praktisi. Pembicara dalam kegiatan ini diantaranya adalah :
1. Bp Darman Arsyad (Wakil dari Pemerintah)
2. Bp Gun Sutopo (Pemilik Sabila Farm)
3. Bp Dr. Aji Dedi Mulawarman (Wakil dari Pihak Akademis)
4. Bp T.O Suprapto (Praktisi Pertanian)

Dalam acara tersebut membicarakan tentang keadaan pertanian terkini yang semakin memburuk. Menurut data kini jumlah rumah tangga petani tinggal 26,13 juta dari sebelumnya (2003), sekitar 31,17 juta. Laju penurunannya mencapai 1,75% per tahun. Jika dibandingkan total penduduk Indonesia yang kini sekitar 250 juta, jumlah petani itu tidak sampai 11%. Dengan fakta penurunan per tahun sebesar itu, sungguh ironis bila kita masih saja mengaku-aku sebagai Negara agraris. Hampir setiap tahun lebih dari 100.000 hektar lahan pertanian beralih fungsi. Dari tahun 2008 – 2010, pernah rata-rata 200.000 hektar per tahun terjadi alih fungsi.

Pemerintah seharusnya mampu menanggulangi kejadian seperti namun apa kenyataannya, kita dapat melihat penurunan yang kian memprihatinkan. Mulai dari penurunan lahan hingga jumlah tenaga kerja dibidang pertanian. Adanya pemerintahan baru apakah mampu mewujudkan pertanian yang lebih maju?? Semua itu menunggu jawaban dari pemerintah tentang peran yang paling dinantikan dari kalangan pengusaha, pendidik maupun praktisi. Menurut Darman Arsyad, masalah utama yang dihadapi pemerintah kini untuk perbaikan pertanian antara lain: kerusakan irigasi sebesar 52%, pupuk, kurangnya tenaga penyuluh.

Oleh karena itu perlunya inovasi yang akan menyelesaikan permasalahan tersebut yaitu dengan adanya kawasan sentra hortikultura  dengan produk pertanian hortikultura dan buah-bauahan dengan fokus pada tanaman cabai,  bawang merah, bunga, sayuran, dan buah jeruk. Adanya inovasi pangan, perkebunan, dan peternakan, dari internal pemerintahan perlunya inovasi kelembagaan dan teknologi di bidang pertanian.  Inovasi inilah yang akan dijalankan pemerintah untuk memperbaiki pertanian saat ini, tinggal kita lihat saja apakah pemerintahan mampu mengawal perkembangan pertanian agar mampu berkembang untuk kedepannya.

Menurut pembicara lain yaitu T.O Suprapto, keadaan pertanian Indonesia masih buruk karena profesi ini masih dipandang sebelah mata. Petani bukanlah profesi yang dapat dibanggakan. Dari kata-kata tersebut maka jaman sekarang krisis yang dihadapai adalah krisis profesi petani. Bagaimana tidak, anak muda yang ada di pedesaan akan meninggalkan desanya untuk pergi migrasi ke kota dengan harapan bermata pencaharian non pertanian yang lebih menggiurkan. Hal serupa juga dialami oleh anak petani yang orang tuanya sendiri sengaja memberi pendidikan yang tinggi pada anaknya dengan harapan untuk memperbaiki hidup dan tidak menjadi petani seperti mereka. Keadaan ini siapa yang perlu disalahkan?? Pertanyaan ini terkadang masih belum dapat terjawab sepenuhnya.

Pentingnya pemerintah dalam hal tersebut selama ini belum dirasakan petani, pertanyaannya, apakah selama ini pemerintah sudah sejauh mana menjangkau praktisi? Apakah bantuan pemerintah benar2 diterima petani? Kenyataanya petani masih sulit untuk berbagai pemenuhan kebutuhan pertanian mereka. “Petani harus lebih pintar dibandingkan dengan yang lain dengan mampu memenuhi keperluannya sendiri dan tidak tergantung pemerintah, petani harus mampu menghasilkan pupuk dan bibit yang baik agar mampu sukses di pertaniannya,” ujar Pak T.O

Pembicara yang lain adalah dari kalangan pengusaha yakni M. Gunung Sutopo yang merupakan pemilik sabila farm yang sukses dengan hasil pertaniannya. “Untuk menjadi sukses, peran yang paling dibutuhkan dalam pertanian adalah peran teknologi,” Ujar pak Gun sapaan akrab pak Gunung Sutopo. Dengan adanya teknologi maka dapat meningkatkan produksi pertanian, yang tidak lain untuk memenuhi permintaan pasar. Adanya import pertanian sebenarnya terjadi karena kurangnya persediaan dalam negri untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dari alasan tersebut, kita tahu bahwa hal yang perlu di tingkatkan adalah teknologipertanian yang mampu menjawab tuntutan masayarakat agar mampu bebas dari import berlebihyang berdampak buruk bagi petani lokal. Perlunya peran Litbang, LIPI, dan Perguruan Tinggi sangat dinantikan para pengusaha dan praktisi untuk menjawab tantangan pemerintah agar mapu memenuhi kebutuhan dalam negri.

Pembicara terakhir adalah pendidik dari universitas brawijaya, Dr. Aji Dedi Mulawarman seorang dosen ekonomi yang tertarik dengan pertanian. Dalam seminar beliau memaparkan tentang ekonomi pertanian. Kenapa selama ini petani tidak dapat sukses?? Alasanya karena petani tidak dapat memberi keputusan tentang harga produk pertanian. Dalam diri petani tidak terdapat jiwa yang berani menentukan harga agar dirinya tidak merugi. Petani Indonesia hanya pasrah dengan keadaan yang ada dan menerima untung rugi sendiri. Petani merupakan satu-satunya orang yang di limpahkan beban produksi bahkan distribusi tanpa ada yang memberikan solusi. Oleh karena itu sinergitas antar pelaku (petani) sampai konsumen harus ada yang mengawasi dan mengatur agar dapat terkontrol dengan baik dan adil.

“Sinergitas antara petani, pengusaha, pendidik, pemerintah, sampai konsumen adalah kunci keberhasilan pertanian,” ujar Dedi. Peran petani sebagi produsen, pendidik dari lembaga maupun penyuluh sebagai perantara dari Pemerintah yang mampu menyampaikan tujuan dan target pertanian Indonesia, serta pemerintah yang berkuasa di negri ini mempunyai peran yang tidak boleh kehilangan tanggungjawab masing-masing. Sinergitas ini tidak boleh ada misscomunication satu sama lain, karena koordinasi yang baik akan menguntungkan satu sama lain demi kemajuan pertanian Indonesia.

Written by Winda Hayuningtyas

Reactions:

1 comment:

  1. INDONESIA HEBAT !!! DI MASA KEPEMIMPINAN JOKOWI-JK, INDONESIA BERUBAH DARI NEGARA BERKEMBANG MENJADI NEGARA INDUSTRI BARU

    ReplyDelete