Kelompok Studi Ilmiah

Kelompok Studi Ilmiah adalah unit kegiatan mahasiswa di Fakultas Pertanian UNS yang bergerak di bidang keilmiahan.

Diskusi Ilmiah KSI 2017

Kegiatan ini merupakan program kerja Bidang PIKMA ini bertujuan untuk memberikan pandangan, mengarahkan dan memotivasi sehingga mahasiswa dapat merencanakan tujuan kuliah khususnya bagi mahasiswa baru Fakultas Pertanian. Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, diskusi ilmiah ini mengusung tema “Rencanakan Tujuan Kuliahmu yang Sebenarnya Mulai dari Sekarang”

Sosialisasi PIM UNS dan PKM 2017

Sosialisasi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) oleh bidang III Fakultas Pertanian UNS berkerjasama dengan KSI (Kelompok Studi Ilmiah) FP UNS bertempat di Aula Gedung B FP UNS. Kegiatan tersebut dilaksanakan bertujuan untuk mengenalkan PKM khususnya bagi mahasiswa baru dan memberikan tips-tips dalam penulisan program kretivias mahasiswa yang baik dan benar sehingga diharapkan dapat lolos seleksi.

Pelantikan Pengurus KSI FP UNS 2017

KSI (Kelompok Studi Ilmiah) adalah salah satu organisasi kemahasiswaan yang memiliki anggota-anggota sebagai pengurus yang siap melanjutkan perjuangan serta berkemauan tinggi dalam berkontribusi bagi almamater, bangsa dan negara. Pelantikan kepengurusan KSI FP UNS 2017 periode tahun 2017-2018 dilaksanakan pada tanggal 28 Maret 2017 dan bertempat di aula FP UNS yang tepatnya di gedung B lantai 2.

FAST 2017 (Festival Of Agri-Science and Technology)

National Essay Competition merupakan salah satu rangkaian acara FAST 2017 (Festival Of Agri-Science and Technology) yang diselenggarakan oleh KSI (Kelompok Studi Ilmiah) Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta yang ditujukan untuk semua mahasiswa, baik yang di Perguruan Tinggi Negeri maupun Perguruan Tinggi Swasta di seluruh Indonesia.

Wednesday, May 27, 2015

KSI Meet and Greets

KSI Meet and Greets



    KSI Meet and Greets, begitulah nama sebuah acara yang diadakan oleh KSI yang bertujuan untuk mengakrabkan anggota dengan pengurus. Proker dari bidang POSDM ini berlangsung pada hari Kamis 23 Mei 2015 pukul 4 sore di gedung setengah jadi sebelah barat gedung C Fakultas Pertanian UNS. Meskipun cuaca pada saat itu tidak bersahabat, acara tetap dapat berjalan dengan lancar. Acara ini diadakan agar anggota KSI terutama angkatan 2013 dan 2014 tetap terhubung dengan KSI, juga sebagai sarana pemberian informasi kegiatan-kegiatan KSI mendatang. Garis besar acara ini adalah penjelasan tentang status keanggotaan dan informasi tentang proker KSI-Class dari bidang PIKMA.
    Penjelasan tentang status keanggotaan disampaikan oleh Ananda Saka Prayogo yang kerap disapa Saka selaku ketua umum KSI. Saka menyampaikan bahwa anggota KSI adalah mahasiswa FP UNS yang telah mengikuti jenjang pengkaderan yang dibuat oleh bidang POSDM. Menjadi anggota KSI tidaklah sulit, namun dibutuhkan komitmen yang besar setelah menjadi anggota KSI. Keuntungan menjadi anggota KSI adalah mendapatkan update informasi tentang KSI dan berhak mengikuti kegiatan serta kepanitiaan di KSI.
    Setelah penjelasan tentang status keanggotaan, acara dilanjutkan dengan penjelasan tentang KSI Class yang disampaikan oleh staff bidang PIKMA, Lilik Nikmaturrohmah. KSI-Class adalah proker bidang PIKMA yang paling utama, terbagi menjadi 2 yaitu Class of Creativity dan Class of Science. KSI-Class of Creativity berisi tentang pelatihan-pelatihan seputar keilmiahan seperti pembuatan PKM, essay, karya tulis ilmiah dll. KSI-Class of Science berisi tentang aplikasi dari ilmu-ilmu pertanian yang didapat di bangku kuliah. Dengan adanya penjelasan tentang KSI-Class ini, diharapkan peserta lebih mengerti dan lebih termotivasi untuk mengikuti KSI-Class dan nantinya dapat menghasilkan karya-karya di bidang keilmiahan yang mengharumkan nama UNS.
    KSI Meet and Greets ditutup dengan penulisan pesan kesan dan saran dari peserta dalam kertas berwarna yang digulung dengan pita kemudian dimasukkan dalam toples yang disediakan panitia. Penulisan pesan kesan ini sebagai sarana komunikasi untuk anggota tentang kepengurusan KSI periode 2015. Diharapkan dengan adanya kritik dan saran dari anggota, pengurus dapat terus memperbaiki diri sehingga kedepannya menjadi lebih baik.

Monday, May 25, 2015

Mengidentifikasi Gejala dan Tanda Hama Penyakit

Contoh cara mengidentifikasi gejala dan tanda penyakit pada tomat. 
Gejala yang muncul pada tomat muda adalah sebagai berikut
Gejala muncul pada buah tomat berupa bercak kering yang bentuknya tidak beraturan
Cara menentukan penyebab dari gejala yang terjadi ialah dengan:

1. Observasi: 
Langkah awal yang dilakukan untuk identifikasi ialah dengan observasi. Observasi dilakukan terhadap tanaman dengan memperhatikan gejala yang muncul serta observasi terhadap lingkungan tempat hidup tanaman.
Gejala yang ada pada buah tomat berupa bercak kering yang bentuknya tidak beraturan sehingga terlihat seperti kudis. Bercak kering tersebut berwarna coklat hingga hitam, dan bagian tengahnya cekung kedalam. Terdapat semacam halo yang mengitari bercak kering tersebut dan berwarna lebih terang daripada warna buah, namun pada sebagian lainnya halo sudah tidak kentara. 
Menurut narasumber yang membawa sampel, mengatakan bahwa gejala tersebut didapat dari tomat yang ditanam di rumah kaca/ green house, dengan kondisi suhu panas. 

2. Hipotesis:
Berdasarkan gejala visual yang nampak berupa bercak kering dan tidak terdapat hifa, maka diduga bahwa penyakit yang terjadi disebabkan oleh jenis bakteri. Menurut Harahap (2013), gejala penyakit tanaman yang disebabkan oleh bakteri dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelompok utama:
a. Kematian  cepat  sel-sel  jaringan  tanaman  yang  diinvasi  oleh  bakteri  patogen yang  menimbulkan  terakumulasinya  pigmen  gelap,  seperti  hasil  oksidasi polifenol  dan  melanin  seringkali  berasosiasi  dengan  khlorosis  disekitar jaringan. Contoh: bercak nekrotik (spot) dan hawar (blight). Bakteri penyebabnya merupakan kelompok Xanthomonas dan Pseudomonas.
b. Invasi yang progresif jaringan vaskular yang diikuti oleh nekrosis jaringan yang berdekatan yang bisa menyebabkan layunya tanaman inang. Contoh: layu pembuluh.
c. Hancurnya jaringan tanaman karena hancurnya sel, yang dikenal sebagai gejala busuk lunak (soft-rot). Contoh: busuk lunak
d. Abnormalitas  pembelahan,  pemanjangan,  dan  perkembangan  sel,  menghasilkan 
e. Pertumbuhan berlebihan (overgrowth). Contoh : tumor, nodule (bintil), and fasiasi.

3. Diagnosis
Tahapan selanjutnya ialah diagnosis. Tahapan dalam diagnosis ialah sebagai berikut:
a. Mengamati gejala yang terjadi pada tanaman. 
b. Melakukan studi pustaka dengan mencocokkan gejala dengan referensi yang ada. 
c. Apabila, masih sulit maka perlu mengisolasi gejala yang muncul pada media selekstif.  
d. Gejala dan tanda penyakit yang belum di kenal sebiaknya di lakukan penelitian lebih lanjut. Perlu di lakukan pengujian untuk membuktikan hipotesis bahwa mikroorganisme tersebut penyebab penyakit dengan serangkaian postulat Koch. 

Pada diagnosis ini, penulis hanya sampai tahapan melakukan kajian pustaka dan mencocokkan gejala yang muncul dengan referensi yang ada. Referensi utama yang digunakan berasal dari buku Plant Pathology Agrios 5th Edition dan foto gejala dicocokkan dengan koleksi gambar penyakit pada tomat yang ada di website Departement of Plant Pathology, The Ohio State University. Berdasarkan kajian pustaka tersebut diketahui bahwa gejala pada buah tomat muda terjadi akibat bakteri Xanthomonas campestris pv. vesicatoria. Deskripsi gejala akibat serangan Xanthomonas campestris pv. vesicatoria sangat sesuai dengan kenampakan visual yang muncul pada sampel. Foto gejala juga sesuai dengan referensi koleksi gambar penyakit akibat Xanthomonas campestris pv. vesicatoria.

Deskripsi Pathogen Penyebab Gejala
1. Nama Penyakit
Penyakit ini umumnya dikenal sebagai bacterial spot, bercak bakteri, bercak kering bakteri, atau kudis bakteri (Pracaya 1998). 

2. Nama Pathogen
Pathogen penyebab penyakit ini adalah bakteri Xanthomonas campestris pv. vesicatoria. Bakteri Xanthomonas campestris pv vesicatoria bersifat aerob, gram negatif dan diujungnya mempunyai satu flagella. Pada media agar bakteri ini berbentuk bulat, berlendir, dan setelah 2 hari masa inkubasi pada temperatur 30°C akan terlihat berwarna kuning mengkilat (Srinivasan 2010). 

3. Gejala akibat serangan pathogen
Penyakit ini dapat menyerang seluruh bagian tanaman seperti daun, batang, dan buah (Panjaitan et al. 2014). Umumnya gejala yang muncul berupa bercak berukuran kecil (diameter 3 mm), berwarna coklat, berbentuk bulat dengan bagian tepinya basah. Pada daun, gejala muncul sebagai bercak kecil, tidak teratur, dan berwarna hitam. Daun dengan terserang banyak bercak lama kelamaan akan berubah warna menjadi kuning. Infeksi pada bagian bunga akan mengakibatkan kegagalan pembungaan. Infeksi pada buah tomat muda, berupa bercak kering berukuran kecil, yang kadang-kadang memiliki halo (lingkaran berwarna lebih cerah diluar bercak). Setelah buah berkembang, halo mulai menghilang dan bercak menjadi coklat gelap dan sedikit cekung, dengan permukaan berkeropeng seperti kudis (Agrios 2005). 
Gejala becak bakteri pada daun tomat memiliki gejala yang hampir mirip dengan bercak kering dan bercak abu-abu. Tidak seperti bercak kering yang disebabkan oleh Alternaria solani, gejala bercak bakteri pada tomat bagian penggiran bulatannya relatif licin. Gejala bercak bakteri umumnya warnanya gelap, sebarannya kurang seragam dibandingkan dengan bercak abu-abu. Dalam kondisi optimum gejala bercak bakteri tersebut akan menyatu dalam bentuk goresan gelap. Bercak pada buah tomat dimulai dari gejala munculnya bercak kecil melepuh atau seperti tersirap air panas, kemudian berwarna coklat seperti kudis dan dibagian tengahnya agak cekung (Srinivasan 2010).

4. Biologi pathogen dan daur penyakit
Xanthomonas campestris pv. vesicatoria mampu bertahan pada tanaman tomat, pada benih, dan potongan bagian yang luruh dari tanaman yang terinfeksi. Pathogen ini juga dapat tumbuh pada tanaman inang lain serta beberapa spesies gulma, yang mampu menjadi sumber inokulum. Umumnya infeksi Xanthomonas campestris pv. vesicatoria sebagian besar disebabkan oleh bahan benih/ biji yang terkontaminasi. Jika benih yang terkontaminasi dikecambahkan, maka ia akan menjadi sumber inoculum primer untuk penyebaran pathogen ke tanaman lainnya di area perkecambahan dan area setelah transplantasi. Di area produksi (baik di lahan atau rumah kaca), pathogen menginfeksi tanaman sehat melalui penerasi ke lubang alami seperti stomata dan hidatoda serta melalui luka pada tanaman selama praktek agronomis (misalnya pemangkasan). Pathogen menyebar melalui percikan air, angin- selama hujan, dan air irigasi (terutama irigasi sprinkle). Setelah terinfeksi, tanaman mulai mengembangkan lesi berupa bercak pada daun serta buah, yang dapat menjadi sumber inokulum untuk infeksi lebih lanjut.
Siklus Penyakit Bercak Bakteri Xanthomonas campestris pv. vesicatoria ialah sebagai berikut:

5. Epidemiologi 
a. Sumber inoculum
Benih yang terkontaminasi dan kegiatan transplantasi (apabila ada bibit tanaman terinfeksi yang ikut di transplantasi) merupakan sumber inokulum primer penyakit bercak bakteri. 
Selain itu, tanaman inang lain dan potongan sisa residu tanaman yang terkontaminasi dimungkinkan juga menjadi sumber inokulum primer yang menyebarkan penyakit ini. Inoculum sekunder dihasilkan di lahan dan umumnya berupa eksudat bakteri yang keluar dari hasil perkembangan luka di bagian aerial tanaman. Eksudat bakteri akan mengontasimasi alat pertanian yang digunakan. Alat pertanian misalnya gunting pemangkas yang terkontaminasi selama praktek agronomi di tempat produksi tomat menjadi sumber inokulan sekunder yang akan menyebarkan pathogen ke tanaman lainnya (Jones et al. 1986).

b. Infeksi 
Infeksi dari pathogen dapat berupa eksudat pathogen dari bercak luka pada daun dan batang yang menyebar melalui percikan air, irigasi sprinkle, dan angin selama hujan. Bakteri Xanthomonas campestris pv. vesicatoria dapat masuk ke tubuh tanaman inang melalui lubang alami seperti hidatoda, stomata dan lentisel (Allipi, 1992). Selain itu, luka, yang disebabkan oleh praktek agronomi (grafting, clipping, pemangkasan, dan selama penyemprotan dengan pestisida dengan alat bertekanan tinggi) mampu menjadi jalan masuk penetrasi pathogen. 
Periode antara infeksi dan ekspresi gejala bervariasi, mulai dari 8 sampai 21 hari, dan ditentukan oleh suhu, umur tanaman dan karakteristik tanah, termasuk status hara tanaman. Di rumah kaca, kerapatan tanaman tinggi dan kelembaban dan suhu hangat memberikan kondisi pertumbuhan yang optimal bagi pathogen. Suhu pertumbuhan yang optimal untuk perkembangan pathogen adalah antara 250- 300 C. sementara itu, kelembaban yang optimal bagi perkembangan pathogen ialah > 80% (Holt, 1994). 
Infeksi pathogen umumnya akan menimbulkan gejala berupa bercak berukuran kecil (diameter 3 mm), berwarna coklat, berbentuk bulat dengan bagian tepinya basah (Pracaya 1998).

c. Penyebaran pathogen
Penyabaran pathogen teutama berasal dari biji yang terkontaminasi dan tanaman sakit yang ikut tertranplantasi di lahan produksi.  Adanya tanaman sakit yang tertransplantasi akan sangat mengancam budidaya tanaman karena menjadi sumber inoculum yang mampu menginfeksi tanaman sehat lain ketika beberapa ribu tanaman baru transplantasi tumbuh bersama-sama di lahan. Penyebaran jarak pendek patogen dimungkinkan melalui air irigasi terutama irigasi sprinkle, angin selama hujan, dan alat yang terkontaminasi, seperti gunting pemangkasan, pisau dan klip. Penyebaran jarak jauh tomat dan parika pembawa terinfeksi pathogen umumnya terkait dengan perdagangan benih yang terinfeksi dan transplantasi bibit yang diintroduksi ke daerah lain (Stall et al. 1993).

d. Kelangsungan hidup pathogen
Patogen dapat hidup pada tanaman inang dan sisa tanaman inang. Biji tanaman yang terinfeksi merupakan media perantara bagi kehidupan dan penyebaran pathogen Xanthomonas campestris pv. vesicatoria yang utama untuk mendukung kelangsungan hidup pathogen. Tanaman inang utama yang mendukung kelangsungan hidup dari pathogen ini adalah tomat dan pepper (EFSA 2014). 

6. Inang pathogen
Inang utama pathogen ialah tomat dan pepper (EFSA 2014). Pathogen telah dilaporkan mempunyai beberapa ras, ada ras yang dapat menyebabkan penyakit pada pepper dan tomat dan ada ras yang hanya menyerang tomat atau pepper saja (Srinivasan 2010). 

7. Rekomendasi pengendalian pathogen
Menurut Agrios (2005), pengendalian penyakit bercak bakteri dapat dilakukan melalui:
a. Pergiliran tanaman untuk mencegah terbawanya inokulum dari tanaman inang atau bekas potongan tanaman 
b. Menggunakan biji dan bibit yang bebas dari infeksi penyakit 
c. Perlakuan benih dengan meredamnya kedalam Chlorox (1% sodium hypochlorite) selama 5 menit atau merendamnya dalam air hangat 500C selama 30 menit.  
d. Menyemprotkan fungisida dengan bahan yang mengandung tembaga atau tembaga ditambah Maneb. 
e. Menggunakan kultivar atau varietas tanaman tomat yang tahan terhadap penyakit bercak bakteri.

Selain cara pengendalian diatas, mengatur suhu dan kelembaban iklim mikro agar tidak sesuai dengan kondisi ekologis pathogen akan dapat menurunkan serangan pathogen bercak bakteri. 
Berdasarkan hal-hal diatas, rekomendasi yang dapat diberikan untuk pengendalian pathogen ini di lokasi sampel ditemukan ialah dengan pengaturan suhu dan kelembaban rumah kaca, melakukan sanitasi dan pembersihan sumber inokulum pathogen, dan melakukan perlakuan bibit sebelum tanam. 

Wednesday, May 20, 2015

Hidroponik Sebagai Alternatif Pertanian Berkelanjutan (ESSAI)

"HIDROPONIK SEBAGAI ALTERNATIF PERTANIAN BERKELANJUTAN"

    Pertanian merupakan salah satu sektor terpenting suatu bangsa. Ada tidaknya pertanian, memiliki pengaruh yang besar bagi kelangsungan hidup warga negara. Banyak negara saling berlomba-lomba untuk mampu menyukseskan pertanian mandiri guna mencapai ketahanan pangan. Oleh sebab itu, di Indonesia pertanian berkelanjutan digalakkan untuk mewujudkan pertanian yang optimal dan mampu mewujudkan swasembada pangan.  Hasil panen yang melimpah, siklus pertanian yang cepat, dan perputaran modal yang ringan menjadi tujuan utama pertanian berkelanjutan. Hal ini karena pertanian berkelanjutan tidak hanya agar para petani mampu bertani dengan nyaman, namun juga agar dapat mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia dimana hingga saat ini jumlah kebutuhan konsumsi tak sebanding dengan jumlah produksinya.
    Hidroponik dianggap sebagai salah satu jalan keluar dari permasalahan pertanian saat ini. Meski banyak teknologi lain yang berkompetisi memenangkan eksistensi di mata petani, nyatanya hidroponik menjadi pilihan utamanya. Hidroponik mampu menjadi alternatif pertanian berkelanjutan di masa yang akan datang. Hal ini dibuktikan dengan sudah berkembangnya penggunaan budidaya hidroponik di beberapa negara. Bahkan diantaranya sudah berkembang pesat dan mengekspor hasil pertanian hidroponiknya ke negara lain.
    Hidroponik merupakan teknik pembudidayaan tanaman dengan menggunakan media air tanpa menggunakan media tanah. Teknik bercocok tanam ini juga sering disebut sebagai teknik soilless. Tanah yang sering disebut sebagai faktor utama penyokong unsur hara untuk menunjang nutrisi tanaman, nyatanya dapat digantikan dengan peran air. Perlu diperhatikan bahwa penggunaan air sebagai media tanam tumbuhan di sini bukan sebatas air biasa, namun adalah air yang mengandung nutrien guna mendukung pertumbuhan tanaman dengan baik. Pada beberapa teknik hidroponik yang sudah berkembang, biasanya pada media tanam (air) diberi aerator sebagai alat sirkulasi air agar nutrien pada air tidak mengendap di bawah dan mampu di serap oleh akar tumbuhan.
    Hidroponik memiliki keunggulan sebagai alternatif pertanian berkelanjutan yang menekankan pada  keefektifan dan keefisienan lahan dan waktu. Walaupun hidroponik merupakan teknik budidaya tanaman dengan memanfaatkan media air, penggunaan air ini ternyata lebih sedikit dari penggunaan air di media tanah. Pada hidroponik, air yang digunakan tidak terbuang percuma  karena selalu berputar (siklus), sedangkan pada media tanah, air akan terbuang percuma karena meresap dalam tanah. Penggunaan air yang lebih sedikit ini ternyata bermanfaat bagi daerah yang memang memiliki pasokan air terbatas, sehingga petani mulai dapat beralih ke teknik hidroponik yang hemat air ini. Selain itu, hidroponik juga tidak mencemari lingkungan. Tidak seperti pada media tanah dimana penggunaan pestisida akan berdampak pada kesuburan tanah, perputaran air pada hidroponik tidak akan mencemari lingkungan seperti kesuburan tanah.
    Hidroponik muncul layaknya penyelamat bagi sebagian orang yang memang mencari jalan alternatif akan permasalahan pertanian yang dihadapi. Pemanasan global, lahan yang semakin sempit, dan penggunaan bahan kimia yang makin meningkat menjadi pemicu ketidaksuburan tanah. Akhirnya petani yang terkena imbasnya, seperti hasil panen tidak memuaskan, kerugian, dan tidak cukup melengkapi permintaan pasar. Semua hal terkecil yang sama sekali tidak terpikirkan oleh manusia terkadang yang menjadi pemicu suatu bencana, hingga pada akhirnya manusia lah yang harus kembali bekerja keras mencari solusi akibat kesalahan mereka.
    Dalam era perkembangan teknologi dan kemajuan saat ini, tidak mengherankan bila manusia akan mampu mengembangkan hidroponik sebagai teknik budidaya utama tanaman. Kampanye pertanian berkelanjutan soilless perlu digalakkan mengingat lahan pertanian kini yang mulai sempit, padahal jumlah penduduk semakin banyak. Tujuan utama pengembangan pertanian untuk tercapainya swasembada pangan dapat disukseskan dengan perubahan metode/ teknik tanam, seperti hidroponik.


Nama        : Lia Fissamawati N.R
Prodi        : D3 THP 2014

Saturday, May 9, 2015

Mewujudkan Peran Positif Pertanian untuk Indonesia Hebat


Minggu, 18 April 2015 di aula FIKP UNS diselenggarakan Seminar Caping Tani yang diadakan oleh Format (Forum Mahasiswa Agroteknologi). Tema mewujudkan Pertanian Positif Pertanian untuk Indonesia Hebat ini menghadirkan pembicara yang luar biasa mulai dari kalangan pemerintah, pengusaha, pendidik, hingga praktisi. Pembicara dalam kegiatan ini diantaranya adalah :
1. Bp Darman Arsyad (Wakil dari Pemerintah)
2. Bp Gun Sutopo (Pemilik Sabila Farm)
3. Bp Dr. Aji Dedi Mulawarman (Wakil dari Pihak Akademis)
4. Bp T.O Suprapto (Praktisi Pertanian)

Dalam acara tersebut membicarakan tentang keadaan pertanian terkini yang semakin memburuk. Menurut data kini jumlah rumah tangga petani tinggal 26,13 juta dari sebelumnya (2003), sekitar 31,17 juta. Laju penurunannya mencapai 1,75% per tahun. Jika dibandingkan total penduduk Indonesia yang kini sekitar 250 juta, jumlah petani itu tidak sampai 11%. Dengan fakta penurunan per tahun sebesar itu, sungguh ironis bila kita masih saja mengaku-aku sebagai Negara agraris. Hampir setiap tahun lebih dari 100.000 hektar lahan pertanian beralih fungsi. Dari tahun 2008 – 2010, pernah rata-rata 200.000 hektar per tahun terjadi alih fungsi.

Pemerintah seharusnya mampu menanggulangi kejadian seperti namun apa kenyataannya, kita dapat melihat penurunan yang kian memprihatinkan. Mulai dari penurunan lahan hingga jumlah tenaga kerja dibidang pertanian. Adanya pemerintahan baru apakah mampu mewujudkan pertanian yang lebih maju?? Semua itu menunggu jawaban dari pemerintah tentang peran yang paling dinantikan dari kalangan pengusaha, pendidik maupun praktisi. Menurut Darman Arsyad, masalah utama yang dihadapi pemerintah kini untuk perbaikan pertanian antara lain: kerusakan irigasi sebesar 52%, pupuk, kurangnya tenaga penyuluh.

Oleh karena itu perlunya inovasi yang akan menyelesaikan permasalahan tersebut yaitu dengan adanya kawasan sentra hortikultura  dengan produk pertanian hortikultura dan buah-bauahan dengan fokus pada tanaman cabai,  bawang merah, bunga, sayuran, dan buah jeruk. Adanya inovasi pangan, perkebunan, dan peternakan, dari internal pemerintahan perlunya inovasi kelembagaan dan teknologi di bidang pertanian.  Inovasi inilah yang akan dijalankan pemerintah untuk memperbaiki pertanian saat ini, tinggal kita lihat saja apakah pemerintahan mampu mengawal perkembangan pertanian agar mampu berkembang untuk kedepannya.

Menurut pembicara lain yaitu T.O Suprapto, keadaan pertanian Indonesia masih buruk karena profesi ini masih dipandang sebelah mata. Petani bukanlah profesi yang dapat dibanggakan. Dari kata-kata tersebut maka jaman sekarang krisis yang dihadapai adalah krisis profesi petani. Bagaimana tidak, anak muda yang ada di pedesaan akan meninggalkan desanya untuk pergi migrasi ke kota dengan harapan bermata pencaharian non pertanian yang lebih menggiurkan. Hal serupa juga dialami oleh anak petani yang orang tuanya sendiri sengaja memberi pendidikan yang tinggi pada anaknya dengan harapan untuk memperbaiki hidup dan tidak menjadi petani seperti mereka. Keadaan ini siapa yang perlu disalahkan?? Pertanyaan ini terkadang masih belum dapat terjawab sepenuhnya.

Pentingnya pemerintah dalam hal tersebut selama ini belum dirasakan petani, pertanyaannya, apakah selama ini pemerintah sudah sejauh mana menjangkau praktisi? Apakah bantuan pemerintah benar2 diterima petani? Kenyataanya petani masih sulit untuk berbagai pemenuhan kebutuhan pertanian mereka. “Petani harus lebih pintar dibandingkan dengan yang lain dengan mampu memenuhi keperluannya sendiri dan tidak tergantung pemerintah, petani harus mampu menghasilkan pupuk dan bibit yang baik agar mampu sukses di pertaniannya,” ujar Pak T.O

Pembicara yang lain adalah dari kalangan pengusaha yakni M. Gunung Sutopo yang merupakan pemilik sabila farm yang sukses dengan hasil pertaniannya. “Untuk menjadi sukses, peran yang paling dibutuhkan dalam pertanian adalah peran teknologi,” Ujar pak Gun sapaan akrab pak Gunung Sutopo. Dengan adanya teknologi maka dapat meningkatkan produksi pertanian, yang tidak lain untuk memenuhi permintaan pasar. Adanya import pertanian sebenarnya terjadi karena kurangnya persediaan dalam negri untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dari alasan tersebut, kita tahu bahwa hal yang perlu di tingkatkan adalah teknologipertanian yang mampu menjawab tuntutan masayarakat agar mampu bebas dari import berlebihyang berdampak buruk bagi petani lokal. Perlunya peran Litbang, LIPI, dan Perguruan Tinggi sangat dinantikan para pengusaha dan praktisi untuk menjawab tantangan pemerintah agar mapu memenuhi kebutuhan dalam negri.

Pembicara terakhir adalah pendidik dari universitas brawijaya, Dr. Aji Dedi Mulawarman seorang dosen ekonomi yang tertarik dengan pertanian. Dalam seminar beliau memaparkan tentang ekonomi pertanian. Kenapa selama ini petani tidak dapat sukses?? Alasanya karena petani tidak dapat memberi keputusan tentang harga produk pertanian. Dalam diri petani tidak terdapat jiwa yang berani menentukan harga agar dirinya tidak merugi. Petani Indonesia hanya pasrah dengan keadaan yang ada dan menerima untung rugi sendiri. Petani merupakan satu-satunya orang yang di limpahkan beban produksi bahkan distribusi tanpa ada yang memberikan solusi. Oleh karena itu sinergitas antar pelaku (petani) sampai konsumen harus ada yang mengawasi dan mengatur agar dapat terkontrol dengan baik dan adil.

“Sinergitas antara petani, pengusaha, pendidik, pemerintah, sampai konsumen adalah kunci keberhasilan pertanian,” ujar Dedi. Peran petani sebagi produsen, pendidik dari lembaga maupun penyuluh sebagai perantara dari Pemerintah yang mampu menyampaikan tujuan dan target pertanian Indonesia, serta pemerintah yang berkuasa di negri ini mempunyai peran yang tidak boleh kehilangan tanggungjawab masing-masing. Sinergitas ini tidak boleh ada misscomunication satu sama lain, karena koordinasi yang baik akan menguntungkan satu sama lain demi kemajuan pertanian Indonesia.

Written by Winda Hayuningtyas