Kelompok Studi Ilmiah

Kelompok Studi Ilmiah adalah unit kegiatan mahasiswa di Fakultas Pertanian UNS yang bergerak di bidang keilmiahan.

Diskusi Ilmiah KSI 2016

Kegiatan ini merupakan program kerja Bidang PIKMA ini bertujuan untuk memberikan pandangan, mengarahkan dan memotivasi sehingga mahasiswa dapat merencanakan tujuan kuliah khususnya bagi mahasiswa baru Fakultas Pertanian. Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, diskusi ilmiah ini mengusung tema “Rencanakan Tujuan Kuliahmu yang Sebenarnya Mulai dari Sekarang”

Sosialisasi PKM FP UNS 2016

Sosialisasi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) oleh bidang III Fakultas Pertanian UNS berkerjasama dengan KSI (Kelompok Studi Ilmiah) FP UNS bertempat di Aula Gedung B FP UNS. Kegiatan tersebut dilaksanakan bertujuan untuk mengenalkan PKM khususnya bagi mahasiswa baru dan memberikan tips-tips dalam penulisan program kretivias mahasiswa yang baik dan benar sehingga diharapkan dapat lolos seleksi.

Pelantikan Pengurus KSI FP UNS 2016

KSI (Kelompok Studi Ilmiah) adalah salah satu organisasi kemahasiswaan yang memiliki anggota-anggota sebagai pengurus yang siap melanjutkan perjuangan serta berkemauan tinggi dalam berkontribusi bagi almamater, bangsa dan negara. Pelantikan kepengurusan KSI FP UNS 2016 periode tahun 2016-2017 dilaksanakan pada tanggal 28 Maret 2016 dan bertempat di aula FP UNS yang tepatnya di gedung B lantai 2.

FAST 2016 (Festival Of Agri-Science and Technology)

National Essay Competition merupakan salah satu rangkaian acara FAST 2017 (Festival Of Agri-Science and Technology) yang diselenggarakan oleh KSI (Kelompok Studi Ilmiah) Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta yang ditujukan untuk semua mahasiswa, baik yang di Perguruan Tinggi Negeri maupun Perguruan Tinggi Swasta di seluruh Indonesia.

Thursday, July 24, 2014

About KSI

Tri Dharma Perguruan Tinggi meliputi bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, maka mahasiswa sebagai bagian dari civitas perguruan tinggi sudah selayaknya menyadari dirinya sebagai insan akademis, insan penganalisa serta insan pengabdi yang sadar akan keberadaannya di lingkungan. Penelusuran minat dan potensi mahasiswa merupakan aspek pengembangan aktivitas di perguruan tinggi. Maka segala aktivitas hendaknya dapat mencakup segala kebutuhan mahasiswa akan fungsi dan kedudukannya sebagai bagian dari masyarakat.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual muda sudah selayaknya mampu berfikir kritis dan analitis terhadap permasalahan-permasalahan yang ada, oleh karena itu perlu adanya sebuah wadah yang mampu memfasilitasi adanya minat serta bakat mahasiswa tersebut. Kelompok Studi Ilmiah Fakultas Pertanian UNS sebagai salah satu bagian dari warga perguruan tinggi secara umum dan sebagai wadah pembinaan dan pengembangan potensial keilmiahan secara khusus mempunyai tanggungjawab untuk mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi serta mewujudkan mahasiswa yang mempunyai konsep berpikir ilmiah. Oleh karena itu, KSI perlu untuk merumuskan program kerja secara terarah dan terencana guna tercapainya tujuan KSI secara khusus dan tercapainya Tri Dharma Perguruan Tinggi secara umum.

Tujuan KSI:
1. Mewujudkan mahasiswa yang berkualitas dan bertakwa kepada Tuhan YME melalui penciptaan situasi yang kondusif di lingkungan fakultas pertanian sebagai masyarakat ilmiah.
2. Mendorong mahasiswa agar dapat menyampaikan aspirasinya terhadap perkembangan IPTEK.
3. Menciptakan iklim keilmiahan di Fakultas Pertanian UNS.

Pola Umum Program Kerja KSI :
1. Meningkatkan dan mengembangkan potensi keilmiahan yang dimiliki oleh anggota KSI pada khususnya, dan mahasiswa Fakultas Pertanian UNS pada umumnya.
2. Mengoptimalkan fungsi pelayanan serta kebermanfaatan KSI untuk anggota pada khususnya dan mahasiswa Fakultas Pertanian UNS pada umumnya.
3. Mengoptimalkan fungsi kaderisasi organisasi yang telah ada.
4. Mengoptimalkan dan mengembangkan usaha penggalian dan pengelolaan dana organisasi.
5. Membangun dan mengembangkan hubungan kerjasama dan jaringan baik internal maupun eksternal organisasi.

Penerapan Teknologi Nano dalam Bidang Pertanian


    Oleh: Nanik P.L (Sekum)

    Akhir- akhir ini banyak kita lihat sawah- sawah yang kering dan hanya dibiarkan begitu saja. Hal itu sudah menunjukkan kualitas pertanian di negara ini semakin menurun. Jika hal tersebut dibiarkan tidak menutup kemungkinan pertanian di Indonesia ini akan semakin mengalami kemunduran. Melihat kualitas pertanian di Indonesia yang seperti ini, memang sangat dibutuhkan teknologi yang dapat membantu dan mempermudah pertanian. Teknologi itu nantinya diharapkan mampu menjadikan pertanian di Negara Indonesia kembali pada kualitas yang baik dan dapat mengembangkan sumber daya manusia.
    Badan Litbang Pertanian telah melakukan beberapa penelitian dan dapat disimpulkan bahwa teknologi nano sangat dipercaya untuk mendapatkan hasil pertanian yang memuaskan. Teknologi Nano  awalnya hanya digunakan pada kosmetika, tetapi karena penelitian yang dilakukan oleh badan Litbang pertanian, teknologi ini juga dapat digunakan dalam bidang pertanian. Teknologi Nano dapat mengembangkan unsur  hara dalam tanah yang berukuran nano dan dapat juga digunakan untuk pengendalian hama dan penykit tanaman. Teknologi yang bekerja pada dimensi 10 pangkat minus 9 ini dapat mengembangkan pertanian masa depan. Dan kenyataannya memang pada zaman sekarang ini diperlukan adanya teknologi yang mampu mengembangkan mutu pertanian di Indonesia agar mendapatkan hasil pertanian yang baik dan memuaskan. karena sumber kehidupan manusia juga bergantung pada kualitas pertanian.

    Nanoteknologi merupakan bidang yang sangat multidisiplin, mulai dari fisika terapan, ilmu material, sains koloid dan antarmuka, fisika alat, kimia supramolekul, mesin pengganda-diri dan robotika, teknik kimia, teknik mesin, rekayasa biologi, teknologi pangan dan tekno elektro. Nanoteknologi dideskripsikan sebagai ilmu mengenai sistem serta peralatan berproporsi nanometer. Satu nanometer sama dengan seperjuta milimeter. Karena ukurannya yang teramat kecil, tren dalam nanoteknologi condong ke pengembangan sistem dari bawah ke atas (bukan atas ke bawah). Maksudnya para ilmuwan dan teknisi tidak menggunakan materi berukuran besar lalu memotongnya kecil-kecil, tapi menggunakan atom serta molekul sebagai materi blok pembuatan yang fundamental.

    Nano teknologi ini, sudah di aplikasikan dalam bidang teknologi pertanian misalnya dalam Nano-modifikasi benih dan pupuk / pestisida, teknik pengemasan makanan, energy ramah lingkungan dan teknik jaringan, Nanoteknologi dapat membantu untuk mereproduksi atau untuk memperbaiki kerusakan jaringan “Tissue engineering” yang menggunakan proliferasi sel secara artifisial distimulasi dengan menggunakan nanomaterial berbasis perancah yang sesuai dan faktor pertumbuhan. Teknik jaringan akan menggantikan pengobatan konvensional saat ini seperti transplantasi organ atau implan buatan.

    Dengan adanya nano teknologi dalam pertanian akan dapat m eningkatkan produktivitas pertanian, kualitas produk, penerimaan konsumen dan efisiensi penggunaan sumber daya. Akibatnya, ini akan membantu mengurangi biaya pertanian, meningkatkan nilai produksi dan meningkatkan pendapatan pertanian. Ini juga akan menyebabkan konservasi dan meningkatkan kualitas sumber daya alam dalam sistem produksi pertanian. Selain itu nano teknologi juga diaplikasikan di berbagai bidang seperti kimia dan lingkungan, kedokteran (nanoteknologi biomedis, nanobiotechnology, dan nanomedicine, Informasi dan komunikasi (nanoRam), konstruksi, tekstil, optic dll.

    Kecanggihan teknologi ini bukan berarti meniadakan dampak negatif. Salah satu hal yang ditakuti para ilmuan adalah kemampuan self replicant, sebagai contoh dibuat produk untuk membasmi virus pada tubuh manusia contohnya kanker namun bila antivirus ini tidak terkontrol untuk sifat self replicant maka dapat membahayakan tubuh manusia yang memakainya. Serta hal negative lain yang mungkin terjadi, contohnya pembuatan bom yang dirancang sedemikian rupa dengan ukuran superkecil dengan kemampuan daya ledak yang besar. Diperlukan kesetimbangan intelektual dan moral dalam mengaplikasikan teknologi ini.

    Kolaborasi dari nanobioteknologi dan nanomaterial mengkaji tentang susunan genetika tanaman serta rekayasa jaringan untuk menghasilkan varietas tanaman yang kebal terhadap perubahan iklim. Dari informasi genetik yang diperoleh, nanobioteknologi mengupayakan untuk menginsersi DNA unggul (DNA yang mempunyai sifat tahan terhadap perubahan klim) untuk ditanamkan (transplantasi) pada modus DNA sel tanaman yang akan dijadikan induk. Dalam kajian yang lebih luas, ternyata nanoteknologi dalam pertanian juga menangani ranah perunutan penyakit tanaman dan intensifikasi pemupukan. Perunutan penyakit tanaman dilakukan dengan teknik penyisipan partikel berukuran nano (sebagai pelacak) ke dalam tubuh tanaman dan dibiarkan menyebar ke seluruh jaringan untuk mendeteksi lokasi sumber penyakit berada. Setelah sumber penyakit ditemukan, maka pengobatan akan lebih efektif dan efisien.

    Pupuk Nano Menawarkan Efisiensi dan Penghematan
    Teknologi nano bisa membawa manfaat besar dan mendalam pada sistem pemupukan dan perlindungan tanaman dengan kepraktisan, ketepatan, efisiensi dan penghematan, makalah diskusi IFPRI mengungkapkan berdasarkan berbagai hasil penelitian di mancanegara. Diutarakan, efisiensi penggunaan nitrogen pada sistem konvensional fertilizer saat ini rendah, kehilangan mencapai sekitar 50-70%. Pupuk nano memiliki peluang untuk mengurangi secara sangat berarti dampak terhadap energi, ekonomi dan lingkungan dengan cara mengurangi kehilangan nitrogen oleh perembesan, emisi dan pergabungan jangka panjang dengan mikroorganisme tanah. Kelemahan ini bisa diatasi dengan sistem pelepasan pupuk menggunakan teknologi nano.

    Sistem pelepasan hara pada teknologi nano memanfaatkan bagian-bagian tanaman berskala nano yang porous yang bisa mengurangi kehilangan nitrogen. Pupuk yang dienkapsulasi dalam partikel nano akan meningkatkan penyerapan hara. Pada generasi lanjut pupuk nano, pelepasan pupuk bisa dipicu dengan kondisi lingkungan atau dengan pelepasan pada waktunya. Pelepasan pupuk dengan lambat dan terkendali berpotensi menambah efisiensi penyerapan hara. Pupuk nano yang menggunakan bahan alami untuk pelapisan dan perekatan granula pupuk yang bisa larut memberi keuntungan karena biaya pembuatannya lebihrendah dibanding pupuk yang bergantung pada bahan pelapis hasil manufaktur. Pupuk yang dilepas dengan lambat dan terkendali bisa pula memperbaiki tanah dengan cara mengurangi efek racun yang terkait dengan aplikasi pupuk secara berlebihan. Pada teknologi nano yang sedang dikembangkan sekarang, zeolit telah dipergunakan sebagai pemeran mekanisme pelepasan pupuk.

    Pupuk Bio Active Bravo Nature
    Pupuk yang menggunakan teknologi nano yang bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan hara, perlindungan tanaman, serta meningkatkan hasil produktifitas tanaman dengan efisiensi dan penghematan sumberdaya lahan. Mengandung  komposisi unsur hara makro mikro, serta zat pengatur tumbuh yang diformulasi dan diproduksi sesuai untuk kebutuhan semua jenis tanaman. Kita ketahui bahwa efisiensi penggunaan nitrogen pada sistem konvensional fertilizer saat ini rendah, kehilangan mencapai sekitar 50-70%. Pupuk nanoteknologi memiliki peluang sangat besar terhadap dampak energi, ekonomi dan lingkungan dengan cara mengurangi kehilangan nitrogen oleh perembesan, emisi dan pengabungan jangka panjang dengan mikroorganisme tanah. Kelemahan ini bisa diatasi dengan sistem pelepasan pupuk menggunakan nanoteknologi.

    Pupuk organik cair Nanoteknologi Bravo nature bekerja dengan sistem pelepasan hara, memanfaatkan bagian - bagian tanaman dan enkapsulasi dalam partikel nano. Pelepasan pupuk dengan lambat dan terkendali berpotensi menambah efisiensi penyerapan hara.

    Manfaat dan Keunggulan:
  1. Menghemat biaya produksi serta meningkatkan produktifitas
  2. Merangsang pertumbuhan akar, batang, daun, bunga dan buah.
  3. Mengandung unsur  hara makro,  mikro dan protein tinggi sebagai hasil senyawa organik bahan alami nabati dan hewani yang mengandung sel sel hidup aktif. 
  4. Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama penyakit sekaligus menekan populasi hama dan penyakit tanaman.
  5. Mencegah kelayuan dan kerontokan daun dan buah.
  6. Mempercepat panen.
  7. Aman digunakan karena sangat bersahabat dengan lingkungan dan tidak membunuh musuh alami
  8. Dapat digunakan bersaman dengan cairan jenis lain (insektisida).
  9. Dapat diaplikasikan pada semua jenis tanaman.
Pupuk Cair Organik dengan Teknologi Nano

Tuesday, July 22, 2014

Warna Ungu Terong

Sudah tidak asing lagikan dengan terung? Iya, terung yang dalam bahasa Inggris disebut eggplant merupakan sayuran buah yang biasa kita konsumsi. Tapi, apakah kalian sempat memikirkan kenapa terung berwarna ungu? Beberapa orang kebanyakan pasti akan terlintas pertanyaan seperti itu. Sebenarnya ada beberapa warna pada terung, mulai warna ungu, hijau dan akhir-akhir ini telah ditemukan yaitu berkat kultur jaaringan terung berwarnaa pink, unik bukan? Dengan warna yang menarik tersebut mungkin akan menambah selera makan kita. Tetapi kali ini kita akan membahas dibalik warna ungu pada terung.
Terong berwarna ungu karena kandungan antosianin 
Warna ungu pada terong terbentuk karena andil dari zat antosianin yang merupakan pigmen pemberi warna ungu. Zat ini Merupakan senyawa flavanoid yang melindungi sel dari sinar ultra violet. Terong ungu kaya akan zat antosianin, sehingga warna ungunya cukup mendominasi pada terong. Zat antosianin mampu berperan dalam menghambat oksidasi dari toksin dan juga mampu menghambat sel tumor pada manusia. Dalam zat antosianin terdapat 2 komponen yaitu sianidin dan delphinidin. Adanya kedua zat tersebut membuat terong bermanfaat untuk  mencegah pertumbuhan sel kanker. Wah hebat juga yah!
Selon zat antosiadin dalam sayuran berwarna ungu termasuk terong ungu juga terdapat ellagic acid, dimana komponen tersebut bermanfaat untuk mencegah penggumpalan darah dan mencegah tumbuhnya beberapa jenis tumor dan kanker seperti kanker kulit, kanker pankreas, kanker payudara, kanker pencernaan dan kanker kolon.
Sekarang sudah tahu bukan ternyata sangat banyak manfaat dari warna terung tersebut. Sehingga kami menyarankan bila memasak terong ungu dengan kulitnya agar mendapat manfaat antosianin.  

Thursday, July 17, 2014

Teknik Persilangan Bunga Anggrek

Indonesia merupakan pusat keanekaragaman genetik beberapa jenis anggrek yang berpotensi sebagai tetua untuk menghasilkan varietas baru anggrek bunga potong, seperti Dendrobium, Vanda, Arachnis, dan Renanthera, maupun sebagai tanaman pot, seperti Phalaenopsis dan Paphiopedilum. Prospek tanaman anggrek dianggap masih sangat cerah untuk dikembangkan. Namun  potensi  ini  belum  dimanfaatkan secara proporsional, hal ini dapat dilihat dari nilai ekpor anggrek Indonesia yang hanya 3 juta US$ per  tahun. Angka  tersebut  termasuk kecil  jika dibandingkan dengan nilai ekspor Negara tetangga Singapura 7,7 juta US$ dan Thailand 50 Juta US$. Sementara potensi perdagangan dunia 150 juta US$ per  tahun (Bank Indonesia 2004). Rendahnya produksi anggrek Indonesia  antara  lain  disebabkan  kurang  tersedianya  bibit  bermutu,  budidaya  yang kurang efisien serta penanganan pasca panen yang kurang baik. Untuk memenuhi permintaan pasar yang cenderung meningkat maka diperlukan ketersediaan bibit dalam jumlah banyak. Oleh karena itu, untuk mengembangkan anggrek di masa mendatang, anggrek-anggrek alam ini dapat dimanfaatkan sebagai induk silangan dalam persilangan anggrek. 

Tanaman Anggrek dapat dikembangbiakkan secara vegetatif dan generatif. Secara vegetatif tanaman anggrek dikembangbiakkan dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman seperti stek keiki, stek mata tunas, dan stek batang sympodial (Hendrayono 2000 dalam Andayani 2007). Cara perbanyakan vegetatif secara konvensional dianggap kurang menguntungkan karena diperlukan waktu lama untuk memperoleh tanaman dalam jumlah banyak. Cara perbanyakan generatif dilakukan dengan menggunakan biji yang secara genetis akan menghasilkan tanaman yang beragam namun akan dihasilkan tanaman dalam jumlah yang banyak. Biji pada tanaman anggrek diperoleh melalui proses penyerbukan (pollinasi) yang diikuti dengan pembuahan. Persilangan pada tanaman anggrek tidak bisa terjadi secara alami kecuali pada jenis anggrek tertentu, oleh karena anggrek memiliki struktur bunga yang khas dengan kepala putik yang terletak di dalam maka sulit terjangkau serangga. Penyerbukan alami dengan bantuan angin juga jarang terjadi. Salah satu cara adalah penyerbukan dengan bantuan manusia. Penyerbukan dengan bantuan manusia dilakukan melalui persilangan/ hibridisasi. Persilangan ini dilakukan untuk memperkaya keaneka-ragaman genetik pada tanaman anggrek. Persilangan anggrek ini akan dibahas lebih lanjut dalam tulisan ini. 

Persilangan/ Hibridisasi Anggrek
Hibridisasi atau  persilangan  adalah  metode  dalam  menghasilkan  kultivar tanaman baru yaitu dengan cara menyilangkan dua atau lebih tanaman yang memiliki konstitusi genetik berbeda  dengan tujuan  untuk menggabungkan karekter – karakter baik  dalam  satu  tanaman,  memperluas  variabilitas  genetik  tanaman melalui rekombinasi gen, dan untuk mendapatkan hibrid vigor. Pemilihan tetua  atau  kombinasi  hibrid merupakan hal yang sangat penting dalam pemuliaan tanaman dan hal tersebut sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan program pemuliaan (Poehlman dan  Quick 1983 dalam Damayanti 2006). 

Hibridisasi atau persilangan dapat dilakukan secara alami dan secara mekanis dengan bantuan manusia. Pada persilangan alami dengan bantuan pollinator. Stökl et al. (2008) melaporkan hasil penelitiannya bahwa uji 33 bunga dari spesies O. lupercalis dan O. iricolor bahwa di lapangan, persilangan antara O. lupercalis dan O. iricolor dibantu secara langsung oleh pollinator A. morio dan A. nigroaeneamales. Semua spesies O. lupercalis yang diujikan ternyata mampu melakukan persilangan hanya dengan bantuan A. morio sementara itu pada jenis O. iricolor juga melakukan persilangan dengan bantuan A. morio dan hanya 20% tanaman (yang diuji) yang dibantu persilangannya oleh A. nigroaeneamales. Uji pada persilangan antara sesama F1 hasil hibridisasi antara O. lupercalis dan O. iricolor juga mampu melakukan persilangan sendiri dengan bantuan salah satu pollinator (36%) atau keduanya (28%). 

Hibridisasi dapat dijadikan sebagai motor penggerak penganekaragaman tingkat tinggi variasi morfologi anggrek jenis Epidendrum. Adanya hibridisasi pada dua spesies Epidendrum dapat mengarahkan ke skenario kompleks evolusi retikular. Sejumlah besar benih hasil hibridisasi yang layak digunakan memiliki viabilitas dan fertilitas yang tinggi. Hasil hibridisasi akan disilangbalikkan dengan tetua asalnya untuk mengetahui sifat fenotip selanjutnya. Untuk mengetahui lebih lanjut dapat pula dilakukan pendekatan genetik pada hibridisasi anggrek seperti yang dilakukan pada genus Epidendrum ( Marques et al . 2014 ) 

Bahan yang digunakan pada hibridisasi anggrek adalah  tanaman  anggrek  yang  telah  berbunga  dengan umur  yang  bervariasi.  Namun  pada  umumnya  tanaman  yang  digunakan  dalam persilangan  sebelumnya telah  beberapa  kali  berbunga. Jenis  anggrek yang akan digunakan  jenis  Phalaenopsis,  Dendrobium, Vanda, Oncidium,  Macradenia, Epicattleya  dan  Colmenara.  Ketujuh  jenis  anggrek tersebut  (baik spesies  ataupun hibridanya)  disilangkan  secara  resiprok  dengan jenis  lain, disilangkan  dengan  jenis yang  sama  maupun  diselfing (Damayanti 2006).

Hibridisasi dinyatakan berhasil apabila dalam satu populasi persilangan muncul variasi seperti warna bunga, tinggi tanaman, atau bentuk tanaman dan semua itu dapat diketahui melalui karakterisasi hasil persilangan. Parameter yang diukur dalam karakterisasi hasil persilangan adalah variasi warna bunga, panjang daun, lebar daun, pertambahan jumlah anakan, panjang bunga, panjang tangkai bunga, lebar bunga, panjang bibir, lebar bibir, dan jumlah kuntum tiap tangkai (Kartikaningrum et al. 2007).

Dalam persilangan anggrek, anggrek akan disilangkan dengan spesies anngrek yang lain. Menurut Kartohadiprodjo dan Gandhi (2010), tipe tanaman anggrek berdasarkan tempat tumbuhnya yaitu:
  1. Anggrek Epifit : tumbuh menumpang pada batang/cabang lain, contoh : anggrek bulan, Dendrobium sp., Cattleya sp.
  2. Anggrek Terestrial / Anggrek Tanah : tumbuh di tanah, contoh : Vanda sp., Arachnis sp.
  3. Anggrek Litofit : tumbuh di batu-batuan contoh : Cytopdium, Paphiopedilum
  4. Anggrek Saprofit : tumbuh di humus atau kompos, contoh : Calanthe, Goodyera sp.


Widiastoety (2001) dalam Andayani 2007 melaporkan bahwa persilangan akan berhasil apabila dilakukan sehari atau dua hari setelah bunga mekar. Setiap jenis anggrek memiliki masa subur yang berbeda-beda, oleh karena itu perlu diketahui waktu yang tepat untuk melakukan persilangan pada anggrek jenis Dendrobium agar diperoleh tingkat keberhasilan yang tinggi.

Menurut Andayani (2007) persilangan pada anggrek ini dapat dilakukan melalui perlakuan penyerbukan sendiri atau perlakuan penyerbukan silang. Pada perlakuan penyerbukan sendiri artinya putik satu bunga diserbuki dengan benangsari (pollen) berasal dari bunga yang sama. Sedangkan penyerbukan silang artinya putik pada satu bunga diserbuki dengan menggunakan serbuk sari yang berasal dari bunga pada tanaman lain tetapi masih satu jenis tanaman. Perlakuan penyerbukan tersebut dilakukan secara acak pada setiap bunga dalam 1 pot. Sepuluh hari setelah pelaksanaan penyerbukan dilakukan pengamatan untuk mengetahui keberhasilan penyerbukan. Penyerbukan dikatakan berhasil apabila tangkai bunga masih tetap segar dan berwarna hijau. Dilakukan penghitungan jumlah bunga yang berhasil diserbuki dan jumlah bunga yang tidak berhasil diserbuki. Pengamatan dilanjutkan sampai 2 bulan untuk mengetahui perkem-bangan buah. Dari bunga-bunga yang berhasil diserbuki dihitung jumlah buah yang berkembang sempurna dan jumlah buah yang gugur. 

Dalam melakukan persilangan pada anggrek ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Menurut Damayanti (2006), tahapan dalam persilangan tanaman anggrek adalah:
a. Persiapan alat
Alat yang digunakan adalah pinset kecil dan tusuk gigi atau batang korek api. Untuk penanaman buah secara aseptik diperlukan laminar, botol kultur, cawan petri, lampu bunsen, pinset, scalpel, korek api, spidol untuk pelabelan, dan lampu neon 40 W untuk penerangan.
b. Pemilihan dan persiapan tanaman induk persilangan 
Dasar dilakukannya persilangan-persilangan adalah untuk memperoleh  warna  bunga  dan  bentuk  bunga yang  unik,  ketebalan  mahkota bunga  (ketahanan  bunga  dalam  vas/vas  life),  keteraturan  susunan bunga  dan wangi  bunga. 
c. Pemilihan bunga yang akan disilangkan 
Dalam memilih bunga yang  akan disilangkan harus diperhatikan  :  (i) dari  satu tangkai bunga maksimal tiga bunga yang disilangkan agar energi hanya terfokus pada  ketiga  bunga  tersebut;  (ii)  kuntum  bunga  terbaik adalah  kuntum  kedua sampai keempat. 
d. Persilangan 
Kuntum induk jantan anggrek diambil tepung sarinya dengan menggunakan tusuk gigi yang bersih. Tepung sari yang terbungkus kotak sari terletak di pusat bunga, berwarna kuning. Kotak sari dicungkil pelan sampai tepung sarinya menempel pada alat yang dipakai, kemudian tepung sari dibawa ke induk betina, yaitu menuju lekukan berlendir yang letaknya persis di bawah kotak sari. Tepung sari induk jantan dilekatkan secara sempurna pada putik induk betina, sementara itu tepung sari induk betina dibuang agar persilangannya murni. Sampai langkah ini perkawinan sudah berlangsung.
e. Pemberian label persilangan
Tanaman diberi label tetua betina x tetua jantan, tanggal penyilangan, dan kode penyilang.
f. Pengamatan hasil persilangan 
Pengamatan penunjang yang akan dilakukan antara lain terhadap : 
  • Bentuk buah pada minggu ke-12 setelah persilangan; 
  • Warna buah pada minggu ke-12 setelah persilangan. 


Adapula pengamatan utama, pengamatan utama yang akan dilakukan antara lain : 
  • Persentase  keberhasilan  persilangan  antar  genus/jenis  dan  dalam genus/jenis itu sendiri (%) 
  • Diameter buah pada minggu keempat setelah persilangan (cm); 
  • Diameter buah pada minggu ke-12 setelah persilangan (cm); 
  • Panjang buah pada minggu ke-empat setelah persilangan (cm); 
  • Panjang buah pada minggu ke-12 setelah persilangan (cm).

(SumberQodriyah Laily 2005)
Pengamatan hasil persilangan anggrek dilakukan sampai buah siap panen. Ciri-ciri  buah siap panen  adalah warna  kulit  buah  lebih  cerah  agak kekuningan dan khususnya pada Dendrobium garis pada buah menjadi lebih lebar. Umur buah siap panen pada beberapa jenis anggrek dapat dilihat pada tabel 1 berikut (Pierik 1987 dalam Damayanti 2006):

Dalam persilangan anggrek, pemilihan  tetua  merupakan  salah  satu  faktor  penting  yang mempengaruhi keberhasilan  suatu  persilangan,  namun  hal  yang  harus  sering deperhatikan selain faktor  pemilihan  tetua dan  sering  menjadi  kendala  dalam  proses  hibridisasi  adalah perbedaan waktu  dalam  pematangan bunga, kepekaan  atau  kerusakan  bagian  bunga terhadap  pengaruh mekanis, serta adanya inkompatibilitas dan  sterilitas (Chaudhari 1971 dalam Damayanti 2006). Diduga faktor yang mempengaruhi rendahnya tingkat keberhasilan persilangan yang dilakukan dalam percobaan  adalah perbedaan waktu dalam pematangan bunga dan  letak  lokasi penyimpanan  tanaman  induk persilangan yang berbeda dan berjarak cukup  jauh,  sehingga  ditemui  kesulitan  pada  saat memantau  kondisi  tanaman  induk dan menentukan bunga yang siap diserbuki atau menyerbuki.

Mengenai masalah bunga yang diserbuki dan menyerbuki, dalam persilangan anggrek Spathoglottis sp. yang dilakukan Qodriyah (2005), persilangan dilakukan secara searah maupun dua arah (resiprok) antara bunga dengan jumlah kuntum banyak dan tangkai bunga sedang-panjang dengan tanaman bertangkai bunga pendek. Sebelum persilangan dilakukan pemilihan atau seleksi tetua jantan maupun betina, baik untuk tanaman pot, taman atau bunga potong. Tetua yang digunakan berasal dari koleksi plasma nutfah anggrek Spathoglottis. Penyerbukan dilakukan pada pagi hari pada bunga yang telah mekar 1-2 hari. Ada penyilang anggrek yang beranggapan bahwa kuntum bunga nomor ganjil (dihitung dari pangkal tangkai) paling baik untuk dijadikan induk betina, karena buahnya berbiji banyak dan fertil. Induk jantan dapat diambil dari kuntum sembarang.

Menurut Widiastoety et al. (2010) dalam pemilihan induk jantan dan betina yang akan disilangkan harus disertai dengan penguasaan sifat-sifat kedua induk tersebut, termasuk sifat yang dominan, seperti ukuran bunga, warna dan bentuk bunga, yang akan muncul kembali pada turunannya. Agar penyilangan berhasil, sebaiknya dipilih induk betina yang mempunyai kuntum bunga yang kuat, tidak cepat layu atau gugur, mempunyai tangkai putik dan bakal buah yang lebih pendek agar tabung polen (pollen tube) dapat dengan mudah mencapai kantong embrio yang terdapat pada bagian bawah bakal buah. Pencatatan nama kedua induk yang disilangkan sangat penting agar tidak merusak tata namanya. Polen dari bunga yang berukuran kecil, jika diserbukkan pada kepala putik bunga yang berukuran besar biasanya akan mengalami kegagalan karena tabung polen tidak dapat mencapai kantong embrio. Akibatnya pembuahan tidak terjadi dan biji tidak terbentuk. Penyilangan perlu dilakukan secara resiprokal atau bolak-balik untuk mengetahui daya kompatibilitas silangan dan daya fertilisasinya. 

Upaya lain untuk memperkaya keanekaragaman anggrek misalnya pada Phalaenopsis sp. dapat dilakukan dengan persilangan intergenerik dengan jenis lain. Anggrek jenis lain yang dapat disilangkan dengan anggrek bulan adalah anggrek jenis Vanda sp. Dalam persilangan intergenerik ini, Utami dan Sri (2012) melakukan penelitian dalam tiga tahun. Tahun pertama penelitian tentang pembuktian bahwa Anggrek Phalaenopsis sp. kompatibel untuk dipersilangkan dengan Vanda tricolor. Tahun kedua penelitian telah diperoleh planlet anggrek hasil persilangan  Phalaenopsis sp  dengan Vanda tricolor yang ditumbuhkan pada berbagai media organik secara in vitro. Penelitian Tahun ketiga dilakukan untuk mengetahui metode aklimatisasi yang terbaik untuk pertumbuhan planlet anggrek hasil persilangan dan untuk mengetahui perbedaan kromosom hasil persilangan yang telah dilakukan dengan kromosom induknya. 

Jumlah kromosom pada anggrek yaitu n = 19-20. Dari hasil penelitian yang dilakukan Utami dan Sri (2012) dapat diketahui bahwa jumlah kromosom baik pada anggrek Phalaenopsis joankileup  june,  P. pinlong cinderela, S1 (♀ Vanda tricolor dengan ♂ Phalaenopsis joankileup june.), maupun  S2 (♀ Vanda tricolor dengan  ♂ Phalaenopsis pinlong cinderela), memiliki jumlah kromosom sama 2n = 40. Walaupun jumlah kromosomnya sama, namun ukuran kromosomnya berbeda. Ukuran kromosom Vanda tricolor berkisar antara (1,94 ± 0,16) µm sampai (4,72 ± 0,19) µm. Phalaenopsis Joane Killep June antara (0,84 ± 0,02) µm hingga (2,97 ± 0,13) µm, Phalaenopsis Pinlong cinderela  antara (2,02 ± 0,15) µm hingga (5,91 ± 0,78) µm, S1(♀ Vanda tricolor x  ♂ Phalaenopsis joankileup june.) antara (1,77 ± 0,20) hingga (1,69 ± 0,24) µm, S2  (♀ Vanda tricolor x  ♂  Phalaenopsis pinlong cinderela) antara (1,86 ± 0,03) µm sampai (6,74 ± 0,59) µm.

Penelitian lain dari klier et al. (1991) pada Cypripedium candidum dan C. pubescens menunjukkan bahwa adanya dua aliran gen dari dua spesies yang sympatric. Populasi hibrida sebagian besar terdiri individu yang di-backcross selanjutnya atau rekombinan. Beberapa individu yang tampaknya satu morfologi spesies mengandung alel penanda dari spesies lain. Di Iowa, data allozyme dan morfologi dan pertimbangan ekologi menunjukkan dengan ekotipe prairie C. pubescens mungkin timbul sebagai akibat langsung dari perolehan informasi genetik dari C. candidum

Hasil penelitian yang ditulis Pinheiro et al. (2010) pada persilangan Epidendrum fulgens dan E. puniceoluteum menunjukkan bahwa keragaman genetik lebih tinggi pada E. fulgens daripada E. puniceoluteum meliputi semua populasi dan parameter yang digunakan. Hal ini mungkin mencerminkan perbedaan dalam ukuran populasi yang ditemukan (lebih tinggi dalam E. fulgens). Epidendrum fulgens dan E. puniceoluteum dari Imbituba memiliki perbedaan yang signifikan dari hasil uji dengan metode HWE (Hardy–Weinberg equilibrium) karena defisit heterozigot. Tiga zona hibrida menyimpang dari HWE, menunjukkan penyimpangan dari perkawinan acak akibat persilangan yang dilakukan.

Referensi:
Andayani Neny 2007. Pengaruh Waktu Pollinasi Terhadap Keberhasilan Persilangan Anggrek Dendrobium. Buletin Ilmiah Instiper 14 (2): 14-21.
Bank Indonesia 2004. Bunga Potong. http://www.bi.go.id. Diakses 15 Maret 2014.
Chaudari  HK 1971. Elementary  Principles  of  Plant  Breeding. Second  Edition. New Delhi, India: Oxford and IBH Publishing Co.
Damayanti Farida 2006. Laporan Akhir Program Hibah Kompetisi (PHK) A3: Pembentukan Beberapa Hibrida Anggrek serta Pengaruh Beberapa Media Perkecambahan dan Media Perbanyakan Cepat secara In Vitro pada Beberapa Anggrek Hibrida. Bandung: Jurusan Budidaya Pertanian, Universitas Padjajaran.
Hendaryono DPS 2000. Pembibitan Anggrek dalam Botol. Yogyakarta: Kanisius.
Jensen NF 1983. Crop Breeding as a Design Science.  In K. M. Rawal and M. N. Wood  (Eds). Crop Breeding.  Madison, Wisconsin USA: The American  Society  of Agronomy,  Inc.  and The Crop Science of Society, Inc.
Kartikaningrum Suskandari, Dyah Widiastoety, Yusdar Hilman, Nina Solvia, dan RW Prasetio 2007. Laporan Akhir: Koleksi, Karakterisasi dan Konservasi In Vivo Plasma Nutfah Anggrek. Segunung: Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian.
Kartohadiprodjo Nies Sumardi dan Gandhi Prabowo 2010. Asyiknya Memelihara Anggrek. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Klier K, MJ Leoschke, and JF Wendel 1991. Hybridization and Introgression in White and Yellow Ladyslipper Orchids (Cypripedium candidum and C. pubescens). The Journal of Heredity 82(4): 305-318.
Nurmalinda Evi Savitri Iriani, Anggraeni Santi dan Titi Haryati.  1999. Kelayakan financial teknologi budidaya anggrek. Segunung: Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung, Cianjur.
Pierik RLM 1987. In Vitro Culture of Higher Plants. Dordrecht: MArtinus Nijhoff Publishers.
Pinheiro Fa´Bio, Fa´Bio De Barros, Clarisse Palma-Silva, Diogo Meyer, Michael F. Fay, Roge´ Rio M. Suzuki, Christian Lexer and Salvatore Cozzolino 2010. Hybridization and introgression across different ploidy  levels in the Neotropical orchids Epidendrum fulgens and E. puniceoluteum (Orchidaceae). Molecular Ecology  19(18): 3981–3994
Poehlman JW and JS  Quick  1983.  Crop  Breeding  In  Hungry World,  In  K.M. Rawal  and M.N. Wood  (Eds.)    Crop  Breeding.   Madison Wisconsin.  USA: The  American  Society  of Agronomy,  Inc. and The Crop Science of Society,  Inc.
Qodriyah Laily 2005. Teknik Hibridisasi Anggrek Tanah Songkok (Spathoglottis plicata). Buletin Teknik Pertanian 10(2): 76-82.
Stökl Johannes, Philipp M Schlüter, Tod  F Stuessy, Hannes F Paulus, Günter  Assum, and Manfred Ayasse 2008. Scent Variation and Hybridization Cause The Displacement of A Sexually Deceptive Orchid Species. American Journal of Botany 95(4): 472–481.
Utami Dwi Susilo dan Sri Hartati 2012. Perbaikan Genetik Anggrek melalui Persilangan Intergenerik dan Perbanyakan Secara In Vitro dalam Mendukung Perkembangan Anggrek di Indonesia. Agrineça 12(2): 104-116.
Widiastoety D 2001.  Perbaikan Genetic dan Perbanyakan Bibit secara In Vitro dalam Mendukung Perkembangan Anggrek di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian 20 (4): 138-143.
Widiastoety Dyah, Nina Solvia, dan Muchdar Soedarjo 2010. Potensi Anggrek Dendrobium dalam Meningkatkan Variasi dan Kualitas Anggrek Bunga Potong. Jurnal Litbang Pertanian 29(3): 101-106.

Monday, July 14, 2014

Penerapan Mol sebagai Pengganti Nutrisi pada Tanaman Hidroponik

Hidroponik kini sedang popular dikalangan masyarakat yang tidak banyak memiliki lahan karena sistem tanam ini tidak memerlukan banyak lahan, bahkan bisa didalam ruangan. Selain faktor lahan, hasilnya pun juga sangat menguntungkan. Hidroponik merupakan sistem bertanam yang santai, kita bisa melakukannya tanpa memiliki waktu yang banyak. Selain masyarakat kini banyak tentara-tentara diluar sana yang wajib menerapkan sistem hidroponik dalam kapal maupun ditempat kerjanya guna untuk memenuhi kebutuhan makannnya.
Tanaman dalam Hidroponik membutuhkan nutrisi untuk pertumbuhannya

Seperti yang telah diketahui hidroponik dalam penanaman tidak menggunakan media tanah, media yang digunakan meliputi sekam, pasir,  batu bata hingga air. Sistem bercocok tanam dengan media tanpa tanah tersebut mampu memberikan solusi bagi masyarakat yang tidak mempunyai lahan pertanian, terkhususnya di perkotaan. Tetapi media tersebut tidak akan lepas dari yang namanya nutrisi, nutrisi sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk membantu pertumbuhan dan perkembangannya. Dengan mengetahuinya nutrisi terdiri dari mix a dan mix b yang memiliki unsur hara tertentu yang masih bersifat kimia, begitu pula harga nutrisi tersebut relatif mahal mencapai 60 ribuan.

Untuk mengurangi biaya yang terlalu tinggi tersebut kita dapat memanfaatkan bahan-bahan organik disekitar kita yang tidak terpakai yang diolah menjadi nutrisi dengan memanfaatkan mol dalam menguraikannya. MOL adalah singkatan dari Mikro Organisme Lokal yang artinya cairan yang terbuat dari bahan - bahan alami yang disukai sebagai media hidup dan berkembangnya mikroorganisme yang berguna untuk mempercepat penghancuran bahan-bahan organik atau dekomposer dan sebagai aktivator atau tambahan nutrisi bagi tumbuhan yang sengaja dikembangkan dari mikroorganisme yang tersedia sekitar kita (NOSC, 2012). 

Sehingga tanaman ini juga merupakan tanaman organik yang tentu memiliki keuntungan yang lebih. Organik sendiri adalah Sistem pertanian yang mengedepankan akan ramah lingkungan, sehingga dalam prosesnya menghindari hal - hal yang berbau produk kimia. Pemanfaatan bahan-bahan organik dari masyarakat juga akan mengurangi tingkat banyaknya sampah. 

Pembuatan mol sendiri meliputi 4 tahap:
  1. Menyiapkan bahan-bahan organik kemudian dicacah menjadi potongan yang kecil-kecil agar mudah terurai.
  2. Mencampurkan air bekas cucian beras, pada air ini banyak mengandung nutrisi yang diperlukan tumbuhan dan sekaligus sebagai bahan makanan yang dapat digunakan mikroorganisme
  3. Penambahan molase yang berguna untuk sumber energi bagi mikroorganisme kemudian mendiamkan 15-20 hari.
  4. Seperti itulah tahap-tahapnya, sehingga nutrisi organik siap digunakan. Semoga hal-hal yang telah disampaikan tersebut bisa bermanfaat bagi semua.


Sumber : 
NOSC. 2012. Manual Kompos dan Mol. Bandung: NOSC

Tuesday, July 8, 2014

Penemuan Robot Pertanian


Saat ini, banyak sekali penemuan canggih terkait dengan teknologi. Diantaranya dapat meringankan berbagai pekerjaan manusia. Tak hanya pekerjaan yang terkait dengan industri besar saja, pekerjaan yang biasa dikerjakan secara tradisional seperti di bidang pertanian juga membutuhkannya. Salah satu penemuan teknologi di bidang pertanian oleh Anak Negeri, yakni Robot penyiram tanaman. Teknologi yang diciptakan dua gadis dari Padepokan Robot  Bandung, Michelle Emmanuela dan Jocelyn Olivia ialah robot penyiram tanaman. Robot ini dilengkapi oleh pengaturan kelembaban otomatis. Robot ini akan menyiram bunga secara otomatis dengan pengaturan tingkat kelembaban yang dapat disesuaikan.

Robot penyiram tanaman itu merupakan salah satu dari sejumlah robot yang dipamerkan pada acara konferensi internasional keragaman hayati, perubahan iklim dan ketahanan pangan (International Conference on Biodiviersity, Climate Change, and Food Security). Piranti yang dinamakan robot penyiraman tanaman ini dapat mengecek kelembaban tanah, sehingga dapat menyiram sesuai dengan kondisi kelembaban tanah tersebut. Dengan mengadopsi teknik pelacak lintas (line tracker), maka robot dapat bergerak secara konsisten mengikuti alur di lahan pertanian.


Sumber: merdeka, 03 July, 2014
Editor: Dianty Utari Syam

~PIKMA KSI~

Saturday, July 5, 2014

AGENDA TERDEKAT KSI (JULI-SEPTEMBER)


Samaru (Sambut Mahasiswa Baru) dan Display OSMARU
Kegiatan samaru merupakan salah satu proker dari bidang POSDM KSI yang akan dilaksanakan pada pertengahan bulan JULI. Samaru dilakukan sebagai bentuk sambutan dan ucapan selamat datang kepada teman-teman maru, sekaligus untuk memperkenalkan kepada mereka tentang KSI.
Display akan dilakukan pada saat OSMARU FP bulan AGUSTUS. Kegiatannya berupa presentasi untuk memperkenalkan KSI kepada Mahasiswa Baru sekaligus sebagai media pencarian
kader-kader baru KSI.

LAKSI (Lomba KSI)
LAKSI merupakan salah satu proker dari bidang PIKMA (keilmiahan KSI). Lomba akan dilangsungkan selama periode Juli hingga September. Lomba yang akan diselenggarakan berupa:
  • Lomba penulisan essai yang wajib diikuti untuk seluruh pengurus KSI dan akan dibuka mulai bulan JULI hingga AGUSTUS. 
  • Lomba penulisan cerpen dan karya tulis dibuka untuk seluruh mahasiswa pertanian UNS yang akan diselengarakan pada bulan AGUSTUS hingga SEPTEMBER.

Rapat Pleno
Seperti biasa rapat-rapat merupakan agenda dari sekum (sekertaris umum). Rapat Pleno KSI akan diselenggarakan pada AKHIR BULAN AGUSTUS.

JAIL (Jalan-jalan Ilmiah)
Jalan-jalan Ilmiah merupakan proker dari humas KSI yang akan dilaksanakan AWAL BULAN SEPTEMBER. Jalan-jalan ilmiah bisa dikatakan sebagai kegiatan refreshing KSI. JAIL bukan ajang jalan-jalan biasa lhoo karena tujuannya ke tempat-tempat yang bermanfaat dan dapat memberikan ilmu tentunya, seperti ke UMKM atau balai-balai penelitian.

AKSI-KELAS KWU dan Talk Show KWU
Kegiatan AKSI yang mengangkat tema kewirausahaan ini merupakan kolaborasi bidang PIKMA dan BKK KSI yang dibuka untuk umum. Tujuan dari AKSI-KELAS KWU dan Talk Show KWU adalah untuk mewadahi minat teman-teman yang ingin belajar berwirausaha. Pelaksanaannya pada bulan SEPTEMBER.


Semangat Teman-teman
Bersama KSI, Tunjukkan Kalau Kita Punya AKSI !!!

Wednesday, July 2, 2014

Puasa dapat Mempertajam Kecerdasan


Puasa menjadi salah satu ibadah wajib bagi umat Islam pada bulan Ramadhan. Perintah puasa telah jelas disebutkan dalam kitab suci Al-Qur’an. Banyak dampak positif yang dapat diperoleh dari kegiatan berpuasa salah satunya dapat mempertajam kecerdasan.

Berdasarkan hasil penelitian para ahli menyebutkan bahwa orang yang lapar adalah orang yang lebih cerdas dibandingkan orang yang tidak lapar, karena perasaan kenyang cenderung membawa pada rasa kantuk dan malas. Hal seperti ini dapat dianalogikan dengan kehidupan orang di negeri sendiri yang tidak lebih sukses daripada kehidupan perantau. Para perantau akan menghadapi tantangan hidup yang lebih berat sehingga otak pun akan terpacu untuk bekerja lebih keras dan cerdas. Begitu pula dengan kondisi lapar yang muncul pada diri seseorang (terutama yang sedang berpuasa) akan mempertajam pikiran dan membuat seseorang lebih kreatif. Sebuah bukti dari  sekelompok mahasiswa University of Chicago yang mengalami progres terhadap nila-nilai tugas di kampus dan peningkatan kewaspadaan mental setelah diminta berpuasa selama tujuh hari. 

Manfaat Puasa untuk Fungsi Otak
Otak merupakan organ yang berfungsi dalam proses mental untuk memperoleh pengetahuan seperti berpikir, memutuskan sesuatu, mengingat dan sebagainya. Dalam melakukan seluruh proses tersebut otak tentu membutuhkan glukosa yang bersumber dari makanan yang dikonsumsi manusia.

Pada saat berpuasa akan terjadi perubahan metabolisme dalam tubuh, dimana tingkat konsumsi makanan yang berkurang akan menyebabkan tubuh kekurangan glukosa. Namun, hal tersebut akan segera ditanggapi oleh sistem pengatur energi yang begitu canggih dalam di dalam tubuh. Ketika pasokan glukosa dari asupan makanan berkurang maka tubuh akan bereaksi dengan cepat untuk menghasilkan glukosa dari sumber lain.  Ketika tubuh kekurangan energi maka pembakaran tidak akan terjadi, dalam hal ini otak akan bereaksi dengan memicu kelenjar pankreas untuk mengeluarkan glukagon. Glukagon inilah yang akan membakar glikogen dalam hati untuk menjadi glukosa. Apabila glukosa yang dihasilkan belum mencukupi maka akan ada pembakaran lemak dalam tubuh.

Otak akan tetap bekerja secara normal meskipun dalam tubuh kekurangan makanan, sehingga tidak ada istilah bahwa lapar itu menyebabkan orang bodoh. Justru ketika orang berpuasa dengan energi yang tidak berlebih akan menyeimbangkan ketersediaan glukosa dalam otak. Dr. Bahr Azwar juga menyebutkan, ketika asupan makanan tidak masuk dalam  tubuh (kondisi orang berpuasa) maka usus akan diberi kesempatan untuk beristirahat. Saat usus beristirahat maka sari makanan akan berkurang, sehingga beban darah yang biasanya membawa sari makanan pun juga akan berkurang. Pengurangan beban tersebut sekaligus meringankan otak untuk tidak diforsir atau dikerahkan dalam membawa sari makanan dari dalam usus. Dengan demikian, otak akan lebih fokus dalam berpikir dan lebih tajam.

Selamat Berpuasa Ramadhan

Referensi:
http://health.kompas.com/read/2012/08/25/09225748/Puasa.Membentuk.Struktur.Otak.Baru