Wednesday, July 8, 2015

PADI ORGANIK KOMODITAS PENDORONG PERTANIAN BERKELANJUTAN DI INDONESIA



PADI ORGANIK KOMODITAS PENDORONG PERTANIAN BERKELANJUTAN DI INDONESIA


Pertanian berkelanjutan merupakan jawaban atas revolusi hijau yang terjadi pada era tahun 60 an yang mengakibatkan kesuburan tanah menurun dan terjadi kerusakan lingkungan yang berpengaruh langsung pada dunia pertanian secara khusus. Menurut Utami dan Handayani (2003), sistem pertanian yang berbasis pada bahan bakar fosil seperti pupuk kimia dan pestisida anorganik dapat merusak sifat-sifat tanah sehingga berdampak pada penurunan produktivitas tanah untuk waktu yang akan datang. Praktek pertanian organik saat ini masih dalam perdebatan. Pihak yang kontra menyangsikan keberhasilan sistem ini dalam memenuhi kebutuhan pangan seiring dengan laju pertumbuhan jumlah penduduk yang semakin meningkat akan tetapi pihak yang pro seperti The Soil Association and Sustain (2001) berpendapat bahwa sebenarnya penyebab kelaparan adalah karena kemiskinan bukan karena ketersediaan bahan pangan yang kurang. Menurut Sanjaya (2004), dewasa ini penggunaan insektisida memakan hampir 50% dari biaya yang digunakan dalam produksi pertanian. Penggunaan insektisida dapat mencemari lingkungan dan menjadikan biaya yang tinggi dalam produksi pertanian sehingga menjadikan resiko penurunan penerimaan dalam usahatani. 

Permintaan atas produk-produk pertanian organik (tanpa menggunakan bahan-bahan kimia) melonjak selama beberapa bulan terakhir. Produk-produk pertanian organik yang permintaannya sedang tinggi adalah sayuran, beras, buah-buahan, rempah-rempah, kopi, dan teh. Masyarakat konsumen semakin sadar dan selektif atas segi kualitas kesehatan produk pertanian. Mereka kini lebih suka mengonsumsi produk alami (organik) ketimbang yang menggunakan bahan kimia (an-organik). Semakin tingginya minat konsumen atas produk pertanian organik, dapat dihitung dari bertambahnya areal penanaman padi organik (Pikiran Rakyat, 2005).
Terdapat kurang lebih 22 jenis padi – padian (Oryza). Jenis O. Sativa dan O. Gilberrina adalah jenis yang dibudidayakan, sedangakan lannya adalah jenis-jenis yang tumbuh liar. O. sativa merupaka jenis yang paling banyak tersebar ke seluruh dunia. Rojolele merupakan contoh varietas lokal yang unggul dan dikembangkan di Indonesia. Varietas ini disenangi oleh konsumen dan petani kerana harga jualnya yang tinggi hampir dua kali harga IR 64 serta rasanya yang enak (Keputusan Mentreri Pertanain No. 126/Kpts/TP.240/2/2003).
Padi organik merupakan pembudidayaan komoditas padi dengan menggunakan sistem yang ramah lingkungan. Penggunaan pestisida saat ini sangat mengganggu lingkungan karena menyebabkan kesuburan tanah menurun bahkan mengakibatkan pembengkakan biaya produksi yang berujung pada penurunan pendapatan petani. Menurut Nurasa (2003) usahatani memiliki tiga komponen biaya yang cukup besar, yaitu komponen pupuk (organik maupun buatan), pestisida dan komponen tenaga kerja mencakup pemeliharaan, panen dan pasca panen. Ketiga komponen tersebut, pupuk merupakan komponen biaya tertinggi dari total biaya produksi. Pada pertanian organik pupuk dan pestisida yang digunakan berasal dari bahan organik dan pupuk kandang yang berasal dari limbah tanaman atau hewan atau produk sampingan seperti pupuk kompos yang berasal dari jerami (Balasubaramanian dan Bell, 2003). Guna mengendalikan hama dan penyakit yang menyerang tanaman maka digunakan biopestisida yang berasal dari bahan aktif tumbuhan. Hal ini tentunnya akan menguntungkan bagi lingkungan sekitarnya karena keseimbangan unsur hara terjaga dan ini merupakan bentuk upaya mewujudkan pertanian yang berkelanjutan. (Penulis: Annita Rahmawati)



DAFTAR PUSTAKA
Nurasa. 2003. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Ekonomi Rumah Tangga Pertanian di Kelurahan Setugede Kota Bogor. Jurnal Agro Ekonomi, Vol.23, No.2, Hal. 133-158
Oktaviani, R. dan Sahara. 2004. Beras, Ketahanan Pangan dan ”World Trade Organization”. Mimbar Sosek Vol. 17 No. 2: Agustus (1-24).
Pikiran Rakyat. 2005. Naik Tajam, Permintaan Hasil Pertanian Organik. (Online) http://www.pikiran-rakyat.com. Diakses tanggal 19 Maret 2007
Sanjaya, Y., 2004. Perbandingan Pengunaan Insektisida dan Sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Terhadap Kelimpahan Plankton. Journal of Biological Science, Biosmart. Vol. 6 Nomor 2., pp 135.
The Soil Association and Sustain: the alliance for better food and farming. 2011. Myth and Reality, Organik vs Non- Organik: The Fact. http://www.soilassociation.org. Diakses pada tanggal 28 Desember 2014.
Utami, S.N.H. dan S. Handayani. 2003. Sifat Kimia Entisol Pada Sistem Pertanian Organik. Ilmu Pertanian 10(2): 63-69.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment