DOLLAR NAIK:KOK NASI GEPREKKU MAKIN DIKIT ??
Pernahkah Anda merasa porsi nasi ayam geprek langganan makin berkurang atau harganya mendadak naik? Sebelum terburu-buru menyalahkan pedagang, ada faktor ekonomi global yang perlu dipahami. Gejolak kenaikan nilai tukar Dolar ternyata berimbas langsung pada isi piring makan kita sehari-hari.
Secara awam, hubungan antara hidangan lokal seperti ayam geprek dengan mata uang Dolar mungkin terkesan jauh, mengingat beras dan ayam diproduksi di dalam negeri. Namun pada kenyataannya, pakan ternak ayam masih banyak bergantung pada bahan baku impor yang ditransaksikan menggunakan Dolar. Tidak hanya pakan, pasokan induk ayam hingga bibit dan teknologi pertanian cabai pun masih mendatangkan dari luar negeri. Ketika kurs Dolar melonjak, biaya produksi yang ditanggung petani dan peternak otomatis melambung tinggi.
Efek dominonya pun merembet hingga ke tingkat warung makan. Menghadapi kenaikan biaya bahan baku, pemilik warung dihadapkan pada dua pilihan sulit: menaikkan harga jual atau menyesuaikan porsi agar tetap terjangkau. Hal ini membuktikan bahwa isu nilai tukar mata uang bukan hanya urusan makroekonomi, melainkan persoalan nyata yang memengaruhi porsi makan harian masyarakat.
Oleh karena itu, langkah strategis yang perlu didorong adalah memperkuat produksi lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor demi mewujudkan ketahanan pangan. Menurut Anda, apakah Indonesia perlu menerapkan swasembada pangan secara menyeluruh, atau ada opsi solusi lain? Tuliskan pendapat Anda di kolom komentar!
_______________________________________
KSI FP UNS
Bersama KSI, Tunjukkan Kita Punya Aksi!
#KABINETAGNIVARSA
#KSI2026
_______________________________________
Temukan KSI FP UNS di :
📥 WhatsApp: uns.id/SaluranKSIFPsINSIGHT
📸 Instagram: @ksifpuns
🎼 Tiktok: @ksifpuns
🌐 Website: http://tulisan-kami.blogspot.com
🎥 Youtube: KSI FP UNS
📧 Email: ksi.faperta.uns@gmail.com


Komentar
Posting Komentar