Langsung ke konten utama

Menyelami Perjuangan Pahlawan Agraria Bangsa

 

Menyelami Perjuangan Pahlawan Agraria Bangsa


Penulis         : Monica Febriani
Editor           : Nikken Yunia Windyasti
Ilustrator      : Hanan Nafi'ah

Hari Tani Nasional ditetapkan pada 24 September 1963 yang bertepatan dengan disahkannya UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA 1960). Kala itu menjadi momentum berharga bagi kaum petani Indonesia yang bebas dari penderitaan dan cengkraman kolonialisme dari penjajah. UUPA 1960 menjadi upaya pemerintah untuk merombak sistem pertanian dalam negeri dengan menjadikannya sebagai tonggak hukum agraria di Indonesia. Salah satu pahlawan agraria bangsa yang memiliki peran penting demi kesejahteraan masyarakat dari segi ketahanan pangan dan ekonomi negara dikenal sebagai petani. Petani di Indonesia dapat memanfaatkan tersedianya kekayaan agraria menjadi sumber utama mata pencaharian petani dan menjadi tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia.

Hal tersebut berdasarkan pada UUD 1945 Pasal 33 Ayat (3) yaitu, “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” Apabila kemakmuran rakyat tercapai maka hal tersebut merupakan salah satu bentuk sifat perlawanan terhadap sistem kolonialisme. Oleh karena itu UUPA memiliki prinsip utama, yaitu menempatkan tanah untuk kesejahteraan rakyat. Hal ini berangkat dari sejarah petani Indonesia yang mengalami masa terpuruk selama penjajahan, dimana hak kepemilikan tanahnya dirampas, tuntutan rodi, dan pungutan-pungutan lain yang merugikan.

Sebagai warga negara Indonesia, kita memahami bahwa negara Indonesia sebagai negara agraris yang memerlukan peran petani. Apresiasi dan penghargaan layak didapatkan untuk salah satu pahlawan agraria kita ini. Pahlawan ini memberikan jasa yang luar biasa pada bidang pangan. Akan tetapi, seiring dengan perubahan generasi serta digitalisasi, berbagai bentuk permasalahan yang dialami petani pun ikut berubah, salah satunya adalah kualitas sumber daya manusia yang berintegrasi dengan tingkat adaptif perkembangan teknologi pertanian. Sudah seharusnya kita agar lebih “peka” terhadap setiap permasalahan yang berkaitan dengan petani Indonesia, serta kita dapat berperan dalam upaya pembangunan agraria dalam negeri.

Selamat Hari Tani Nasional, jangan pernah melupakan sosok pahlawan agraria bangsa, karena tanpa jasa mereka kebutuhan pangan tidak akan mampu terpenuhi. “Sektor pertanian dan pangan adalah soal hidup matinya suatu bangsa”- Ir. Soekarno. Sikap menghargai pangan berarti juga menghargai jasa para petani hebat yang telah mengelolanya, harapan dan dukungan kami untuk kesejahteraan petani Indonesia dapat terus ditingkatkan demi kemajuan bangsa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teknik Persilangan Bunga Anggrek

Indonesia merupakan pusat keanekaragaman genetik beberapa jenis anggrek yang berpotensi sebagai tetua untuk menghasilkan varietas baru anggrek bunga potong, seperti Dendrobium , Vanda , Arachnis , dan Renanthera , maupun sebagai tanaman pot, seperti Phalaenopsis dan Paphiopedilum . Prospek tanaman anggrek dianggap masih sangat cerah untuk dikembangkan. Namun  potensi  ini  belum  dimanfaatkan secara proporsional, hal ini dapat dilihat dari nilai ekpor anggrek Indonesia yang hanya 3 juta US$ per  tahun. Angka  tersebut  termasuk kecil  jika dibandingkan dengan nilai ekspor Negara tetangga Singapura 7,7 juta US$ dan Thailand 50 Juta US$.  Sementara   potensi   perdagangan   dunia  150 juta US$ per   tahun  (Bank Indonesia 2004). Rendahnya produksi anggrek Indonesia  antara  lain  disebabkan  kurang  tersedianya  bibit  bermutu,  budidaya  yang kurang efisien serta pena...

GEJALA TANAMAN KEKURANGAN UNSUR HARA

Kekurangan salah satu atau beberapa unsur hara akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak sebagaimana mestinya yaitu ada kelainan atau penyimpangan-penyimpangan dan banyak pula tanaman yang mati muda yang sebelumnya tampak layu dan mengering. Keadaan yang demikian akan merugikan petani dan tentu saja sangat tidak diharapkan oleh petani A. Gejala Kekurangan Unsur Hara Makro 1. Kekurangan Unsur Nitrogen ( N ) Gejala sehubungan dengan kekurangan unsur hara ini dapat terlihat dimulai dari daunnya, warnanya yang hijau agak kekuningan selanjutnya berubah menjadi kuning . Jaringan daun mati dan inilah yang menyebabkan daun selanjutnya menjadi kering dan berwarna merah kecoklatan. Pada tanaman dewasa pertumbuhan yang terhambat ini akan berpengaruh pada pertumbuhan, yang dalam hal ini perkembangan buah tidak sempurna, umumnya kecil-kecil dan cepat matang. Kandungan unsur N yang rendah dapat menimbulkan daun penuh dengan serat, hal ini dikarenakan menebalnya membran sel daun sedangkan selnya s...

Agri Feature : Pohon Fast Growing Layak Dikembangkan di Indonesia

Tanaman Fast Growing Species (FGS) merupakan tanaman cepat tumbuh dan mempunyai masak tebang maksimal 15 tahun. FGS yang dikembangkan di Perum Perhutani diutamakan jenis-jenis valuable hardwoods . Kelebihan dari valuable hardwoods adalah : mempunyai nilai keuangan yang tinggi, harga yang baik, mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu, serta kegunaan yang luas mempunyai nilai produk akhir yang tinggi bisa diolah untuk kayu gergajian, plywood atau veneer