Tuesday, September 24, 2013

KADO SPESIAL UNTUK PERINGATAN HARI TANI INDONESIA


Indonesia dikenal dengan negara agraris...........Namun apa kata negara lain jika negara agraris, kaya akan sumber daya bahan baku pertanian yang cukup untuk memenuhi pangan melakukan impor?Bagaimana dengan hasil bumi kita? Mau dibawa kemana?
 
Membangun ketahanan pangan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Ketahanan pangan dimaksud adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Sejalan dengan hal tersebut, salah satu kunci sukses Kementerian Pertanian adalah peningkatan diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan pangan pokok tertentu. Hal ini didasari oleh pola konsumsi pangan masyarakat Indonesia yang masih belum beragam, bergizi seimbang, dan aman serta masih didominasi oleh beras. Di samping itu, rendahnya konsumsi pangan hewani, sayuran, buah dan aneka kacang menyebabkan kualitas konsumsi pangan masyarakat masih rendah.

Peran industri dan swasta dalam pengembangan pangan lokal untuk mendukung diversifikasi pangan masih harus ditingkatkan. Pada umumnya industri yang bergerak di bidang pangan masih mengandalkan terigu sebagai bahan baku utama meskipun sudah dikembangkan tepung pengganti terigu yang berbasis sumber daya lokal seperti ubi kayu, dan banyak sumber karbohidrat dari jenis umbi-umbian termasuk sagu dapat dijadikan bahan pangan pokok masyarakat ke depan.

Berkembangnya teknologi pangan dan inovasi-inovasi yang telah dilakukan oleh Badan Litbang Pertanian, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dan perguruan tinggi telah banyak menghasilkan paket teknologi pangan yang berbasis kearifan lokal, menjadi produk pangan yang dapat dikomersilkan.Kondisi pola konsumsi pangan masyarakat dapat bergeser dengan cukup dinamis, dipengaruhi oleh banyak hal seperti kondisi sosial, budaya dan ekonomi, preferensi dan ketersediaan.Namun sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden No.22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal, bahwa upaya penganekaragaman konsumsi pangan harus berbasis sumber pangan setempat atau pangan lokal.Pengurangan konsumsi beras juga harus disertai dengan pengurangan konsumsi gandum/terigu yang seluruhnya diimpor. Konsumsi beras sebagai sumber karbohidrat dapat disubsitusi dengan karbohidrat lain yang biasa dikonsumsi masyarakat berdasarkan kearifan lokal antara lain: jagung, sorghum, hotong, jali, sagu, ubi kayu, ubi jalar, talas, pisang, labu kuning, dan sukun.

Tantangan utama yang dihadapi dalam upaya percepatan diversifikasi konsumsi pangan, adalah:
  1. Globalisasi perdagangan dan pergeseran pola konsumsi pangan masyarakat ke arah pangan yang lebih instan
  2. Masih rendahnya tingkat konsumsi pangan sumber protein, vitamin dan mineral serta tingginya konsumsi beras dan terigu
  3. Penggunaan bahan baku pangan lokal masih terkendala dengan masalah kontinuitas ketersediaan yang belum stabil dan mutunya sangat beragam.
  4. Kebijakan produksi pertanian belum mempertimbangkan kecukupan gizi
  5. Perubahan iklim

Permasalahan
  1. Masih kurangnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya konsumsi beragam, bergizi seimbang dan aman
  2. Terbatasnya ketersediaan dan akses terhadap inovasi teknologi
  3. Keberagaman varietas yang ditanam oleh masyarakat.
  4. Kurangnya dukungan permodalan untuk produksi maupun untuk pengolahan karena skim kredit yang ada belum dapat digunakan untuk pengembangan bahan baku pangan lokal.
  5. Harga bahan baku pangan lokal masih belum stabil dan relatif lebih tinggi daripada harga terigu, sehingga harga produk akhir juga cenderung lebih tinggi.
  6. Belum ada jaminan keamanan produk pangan lokal yang dihasilkan.

Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati yang begitu besar termasuk umbi-umbian. Kebanyakan komoditi ini tersedia secara tradisional dan dibudidayakan secara sederhana di lahan kering dan tadah hujan. Di beberapa daerah pangan lokal selain beras sejak dulu telah menjadi pangan pokok seperti sagu dan umbi-umbian di Maluku dan Papua, jagung di Madura, Jawa Timur dan beberapa daerah di Nusa Tenggara serta ubi kayu di daerah pegunungan di Jawa Timur, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. 

Pangan Sumber Karbohidrat 
Jagung
Produk pangan olahan dari bahan jagung bukan lagi menjadi bahan pangan yang ‘inferior’, terutama dengan berkembangnya kesadaran masyarakat akan kesehatan. Produk pangan dari jagung seperti gula jagung dan minyak jagung diyakini dapat menurunkan kadar gula darah dan non kolesterol.   

Ubi kayu
Sebagai sumber karbohidrat, ubi kayu dapat dikonsumsi dalam bentuk langsung maupun makanan olahan yang berasal dari tepung.Tanaman ubi kayu relatif mudah dibudidayakan, dapat dibudidayakan pada ketinggian dari 0 sampai 1500 m dpl dengan curah hujan antara 750 – 1.000 mm per tahun. Ubi kayu juga dapat diusahakan pada segala jenis tanah asal mempunyai drainase yang baik, dengan pH tanah yang dikehendaki antara 4,5 sampai 8,0. Penanaman ubi kayu dilakukan secara monokultur atau tumpangsari dengan tanaman lain.
Ubi kayu mempunyai prospek menjadi sumber bahan pangan pilihan dalam diversifikasi pangan, beberapa keunggulan dari ubi kayu ini adalah: a) tanaman ini sudah dikenal dan dibudidayakan secara luas oleh masyarakat pedesaan sebagai bahan pokok dan sebagai bahan cadangan pangan pada musim paceklik; b) masyarakat Pulau Jawa khususnya di pedesaan telah terbiasa mengolah dan mengonsumsinya dalam bentuk gatot dan tiwul; c) nilai kandungan gizinya cukup tinggi; dan d) mudah beradaptasi dengan lingkungan atau lahan yang marginal dan beriklim kering. 

Ubi jalar
Sebagai sumber bahan pangan yang mempunyai potensi tinggi namum belum didayagunakan secara maksimal. Di Indonesia, penggunaan tepung ubi jalar memang belum sebanyak di luar negeri. Kondisi ini merupakan peluang bagi pengembangan ubi jalar. Indonesia termasuk lima besar negara penghasil ubi jalar terbesar di dunia, dengan produksi 2 juta ton per tahun.   

Talas
Tanaman pangan yang bersifat menahun. Talas bisa dijumpai hampir di seluruh kepulauan dan tersebar dari tepi pantai sampai pegunungan yang terletak 1.000 – 1.300 m di atas permukaan laut baik liar maupun dibudidayakan. Saat ini daerah yang dikenal sebagai sentra Talas adalah Bogor, Banten dan Malang. Beberapa jenis talas yang dapat dikonsumsi telah dikenal seperti talas sutera, talas bentul, talas ketan, talas paris, talas loma, talas pandan, talas lampung, talas mentega, talas gambir atau talas hideung (Sunda = hitam). Tanaman talas relatif mudah ditanam di hampir semua jenis tanah dan juga dapat ditumpangsarikan. Budidaya tanaman talas dapat menghasilkan produksi yang baik pada lingkungan bersuhu 21° C -27° C, kelembaban udara 50% - 90%, adanya sinar matahari langsung, dan curah hujan 2.000 mm/tahun. Pada kondisi optimal, hasil produksi dapat mencapai 10 ton/hektar. Di sisi lain, di samping dikonsumsi sebagai makanan pokok dan makanan tambahan karena mengandung karbohidrat tinggi, protein, lemak, dan vitamin, tanaman yang mengandung asam perusi atau asam biru ini, juga memiliki nilai ekonomi tinggi. Dalam perkembangannya, talas bukan lagi makanan inferior, dalam bentuk tepung bahan baku talas dapat dibuat produk makanan bernilai tinggi.   

Sagu
Dibandingkan dengan tanaman penghasil karbohidrat lain, keunggulan utama tanaman sagu adalah produktivitasnya tinggi. Produksi sagu yang dikelola dengan baik dapat mencapai 25 ton pati kering/ha/tahun. Produktivitas ini setara dengan tebu, namun lebih tinggi dibandingkan dengan ubi kayu dan kentang dengan produktivitas pati kering 10-15 ton/ha/tahun. Sagu tumbuh baik pada lahan marginal seperti gambut, rawa, payau atau lahan tergenang di mana tanaman lain tidak mampu tumbuh.
Dalam upaya pengembangan pangan lokal di Indonesia sudah saatnya mengoptimalkan peran swasta secara intensif melalui mekanisme public private partnershipseperti pada pembangunan infrastruktur. Posisi bisnis dan industri pangan sangat strategis dalam mendukung keberhasilan diversifikasi pangan, oleh sebab itu keterlibatan swasta merupakan suatu keharusan dalam percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal. Mengingat cukup besarnya potensi pangan lokal yang ada, sudah saatnya pemanfaatannya dioptimalkan sebagai sumber karbohidrat selain beras dan terigu.

Sejauh ini potensi pangan lokal yang ada di Indonesia pengelolaannya masih terbatas pada skala industri rumah tangga atau UKM saja, belum pada skala ekonomis. Kondisi ini menyebabkan produk olahan pangan lokal belum mampu bersaing dengan beras dan terigu, karena harganya masih lebih tinggi akibat dari biaya produksi yang belum efisien. Dengan adanya program pemerintah untuk menganekaragamkan pangan sumber karbohidrat selain beras dan terigu, diharapkan dapat membuka peluang untuk pengembangan pangan lokal dalam skala yang lebih ekonomis melalui penciptaan nilai tambah. Dengan kata lain nilai tambah yang diciptakan harus dapat menimbulkan tarikan teknologi untuk menumbuhkan kegiatan ekonomi yang mengakar kepada potensi yang ada. Untuk itu inovasi yang terus menerus yang selaras dengan tuntutan pasar dan kebutuhan konsumen merupakan kunci sukses pendekatan ini. Hanya dengan cara inilah tuntutan pasar akan berjalan seiring dengan kemajuan produsen dan memberikan manfaat yang optimal untuk seluruh pihak. Kebutuhan bahan baku pangan lokal untuk industri pangan Indonesia cukup besar, sehingga diperlukan program pengembangan tanaman pangan lokal secara terpadu dan secara konsisten dengan melibatkan masyarakat setempat.Mekanisme kerjasama kemitraan antara petani produsen, industri pengolah/pelaku usaha dan lembaga penelitian/perguruan tinggi (sebagai pemasok teknologi), harus dijalin secara sinergis dan saling menguntungkan.

Menindaklanjuti permasalahan, tantangan dan potensi dalam rangka percepatan penganekaragaman konsumsi pangan sebagai upaya untuk memantapkan atau membudayakan pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman dalam jumlah dan komposisi yang cukup guna memenuhi kebutuhan gizi untuk mendukung hidup sehat, aktif dan produktif, maka strategi yang dilaksanakan untuk mencapai skor PPH 95, adalah mendorong penurunan konsumsi beras dan peningkatan konsumsi aneka pangan lokal dalam rangka diversifikasi pangan.

Penurunan konsumsi beras yang dibarengi oleh peningkatan konsumsi umbi-umbian sebagai sumber karbohidrat dan produk ternak (daging, telur, susu), ikan, sayuran dan buah-buahan akan meningkatkan kualitas konsumsi pangan yang memenuhi kaidah gizi seimbang. Upaya pencapaiannya dilaksanakan melalui Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal, dalam bentuk kegiatan optimalisasi pekarangan dengan menggunakan model Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL); pengembangan pangan pokok lokal seperti ubi kayu, sagu, jagung, ubi jalar, dan umbi-umbian lokal lainnya; dan promosi diversifikasi pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman (B2SA). 

SELAMAT HARI TANI INDONESIA

Reactions:

0 comments:

Post a Comment