Monday, July 9, 2012

Sistem Pengairan Subak, Resmi menjadi Warisan Dunia (UNESCO, 29 Juni 2012)

UNESCO : SISTEM PENGAIRAN 'SUBAK' RESMI JADI WARISAN BUDAYA DUNIA
Kepala Divisi Penerangan KBRI Moskow, M.Aji Surya, Jumat (29/6/2012) pada sidang yang digelar pukul 17.30 waktu setempat (Moskow) menyampaikan bahwa Subak atau sistem pengairan sawah masyarakat Bali akhirnya resmi ditetapkan sebagai warisan dunia untuk cultural landscape. Penetapan subak ini dilakukan dalam sidang Badan PBB United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) di St Petersburg, Rusia. Menurutnya landscape ini telah diperjuangkan selama 12 tahun dan telah tertunda beberapa kali pengesahannya. Kali ini tidak nampak yang menentang usulan subak menjadi warisan dunia.

Sementara itu, Wakil menteri pendidikan dan kebudayaan Wiendu Nurhayati yang hadir dalam kesempatan itu mengucapkan terima kasih kepada semua negara yang mendukung. "Ini adalah momen yang historis," kata Windu.

Dalam wikipedia bebas disebutkan apa dan bagaimana SUBAK itu. Subak adalah organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan sawah yang digunakan dalam cocok tanam padi di Bali, Indonesia. Subak ini biasanya memiliki pura yang dinamakan Pura Uluncarik, atau Pura Bedugul, yang khusus dibangun oleh para petani dan diperuntukkan bagi dewi kemakmuran dan kesuburan dewi Sri. Sistem pengairan ini diatur oleh seorang pemuka adat yang juga adalah seorang petani di Bali.

Sistem Pengairan Subak, kebutuhan seluruh petani lebih diutamakan. Metode yang baru pada revolusi hijau pada awalnya menghasilkan hasil yang melimpah dengan tehnik penanaman yang bombastis-menerapkan penggunaan pupuk berlebihan dan melupakan pemanfaatan Pupuk Organik dan cara tanam yang serabutan/tidak serempak dan seragam, tetapi kemudian diikuti dengan kendala-kendala seperti kekurangan air, hama dan polusi akibat pestisida baik di tanah maupun di air. Akhirnya ditemukan bahwa sistem pengairan sawah secara tradisional sangatlah efektif untuk menanggulangi kendala ini.

Subak telah dipelajari oleh Clifford Geertz, sedangkan J. Stephen Lansing telah menarik perhatian umum tentang pentingnya sistem irigasi tradisional. Ia mempelajari pura-pura di Bali, terutama yang diperuntukkan bagi pertanian, yang biasa dilupakan oleh orang asing. Pada tahun 1987 Lansing bekerja sama dengan petani-petani Bali untuk mengembangkan model komputer sistem irigasi Subak. Dengan itu ia membuktikan keefektifan Subak serta pentingnya sistem ini.

Pada tahun 2012 ini UNESCO, mengakui Subak (Bali Cultur Landscape), sebagai Situs Warisan Dunia, pada sidang pertama yang berlangsung di Saint Petersburg, Rusia.


Sumber Referensi :

J. Stephen Lansing, Priests and Programmers: Technology of Power in the Engineered Landscape of Bali Princeton University Press.
"Balinese Water Temples Withstand Tests of Time and Technology" - National Science Foundation
Simulation Modeling of Balinese Irrigation (extract) by J. Stephen Lansing (1996)
"The Impact of the Green Revolution and Capitalized Farming on the Balinese Water Temple System" by Jonathan Sepe (2000). Literature review.


Reactions:

0 comments:

Post a Comment